Lebih Banyak pada Wanita, Bekerja di Akhir Pekan Tingkatkan Risiko Depresi

Survei menganalisis 20.000 pekerja dan menemukan bahwa mereka yang bekerja lebih dari 55 jam per minggu 7,3 persen menunjukkan lebih banyak gejala dep

Lebih Banyak pada Wanita, Bekerja di Akhir Pekan Tingkatkan Risiko Depresi
Net
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM - Bagi sebagian orang, akhir pekan bukan berarti bisa beristirahat dengan tenang.

Pasalnya, beberapa pekerjaan mengharuskan karyawannya tetap bekerja di akhir pekan.

Meski pasrah menerima keadaan, tak bisa dipungkiri berat rasanya ketika melihat teman-teman atau keluarga bersenang-senang di akhir pekan tanpa kamu.

Nah, sebuah penelitian baru menemukan, bahwa bekerja di akhir pekan dapat mengacaukan kesehatan mental.

Para peneliti dari University College London dan Queen Mary Universit of London menemukan, bahwa mereka yang bekerja selama berjam-jam di akhir pekan, berisiko lebih tinggi mengalami depresi – dan risiko pada wanita lebih tinggi ketimbang pria.

Sampai Juni Total Wisman 3,6 Juta, Koster Optimistis Target 7 Juta Wisman Tercapai

Mengapa Tanah Pura di Bangli Bisa Lolos menjadi Agunan? Begini Penjelasan Pihak Bank

Survei menganalisis 20.000 pekerja dan menemukan bahwa mereka yang bekerja lebih dari 55 jam per minggu 7,3 persen menunjukkan lebih banyak gejala depresi.

Sedangkan 4,6 persen wanita yang bekerja di akhir pekan, juga menunjukkan gejala depresi. Sementara hanya 3,4 persen pria yang menunjukkan tanda-tanda depresi.

Gill Weston, penulis utama studi ini mengatakan, bahwa ini adalah studi observasional, sehingga meski belum dapat ditentukan apa penyebab pastinya, penelitian ini menunjukkan banyak wanita menghadapi beban tambahan untuk melakukan bagian yang lebih besar dari urusan rumah tangga dibanding pria.

Mulai dari jam kerja, tekanan yang lebih banyak, dan tanggungjawab berlebih.

Kerajinan Tangan Tinggal Kenangan, Krama Banjar Dauh Labak Tak Kuat Tekanan

Pihak SMPN 10 Denpasar Akui Buka Sumbangan Sukarela, Bukan Pungutan dengan Penentuan Nominal

"Terlepas dari pola kerja mereka, kami juga menemukan bahwa pekerja yang paling banyak mengalami gejala depresi adalah mereka yang berusia lebih tua, dengan pendapatan lebih rendah, perokok, melakukan pekerjaan yang menuntut fisik, dan yang tidak puas dengan tempat kerjanya,” papar Weston.

"Kami berharap temuan kami akan mendorong para pengusaha dan pembuat kebijakan untuk berpikir tentang bagaimana caranya mengurangi beban dan meningkatkan dukungan bagi perempuan yang bekerja dalam waktu tak terbatas atau tidak teratur - tanpa membatasi kemampuan mereka untuk bekerja ketika mereka menginginkannya," ujarnya lagi. (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Awas, Bekerja di Akhir Pekan Bisa Mengacaukan Kesehatan Mental"

Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved