Dua Mata Tombak Era Perang Puputan 1908 Diserahkan ke Puri Klungkung
Yayasan Westerlaken Foundation asal Belanda menyerahkan hibah dua mata tombak era Perang Puputan Klungkung tahun 1908, ke pihak Puri Klungkung
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Irma Budiarti
Dua Mata Tombak Era Perang Puputan 1908 Diserahkan ke Puri Klungkung
TRIBUN-BALI.COM, KLUNGKUNG - Yayasan Westerlaken Foundation asal Belanda menyerahkan hibah dua mata tombak era Perang Puputan Klungkung tahun 1908 ke Puri Klungkung, Kamis (1010/10/2019).
Kedua benda pusaka bersejarah ini diserahkan langsung kepada Penglingsir Puri Agung Klungkung, Ida Dalem Semaraputra, untuk selanjutnya menjadi koleksi Museum Semarajaya Klungkung.
President of Westerlaken Foundation, Rodne menjelaskan, dua mata tombak itu ia dapatkan dari sebuah yayasan di Belanda dengan nilai 1000 euro.
Selanjutnya setelah dilakukan berbagai kajian dan penelitian, diketahui dua belah mata tombak tersebut merupakan khas Klungkung, dengan tahun pembuataan era 1800 sampai 1900-an.
"Setelah serangkaian penelitian, dapat diidentifikasi dua mata tombak ini berasal dari Perang Puputan Klungkung tahun 1908," ungkap Rodne yang merupakan warga berkebangsaan Belanda.
Kecintaan Rodne terhadap benda bersejarah, bermula saat dirinya menjadi relawan dan melihat banyak benda koleksi dari Kerjaaan Klungkung dan Badung di beberapa museum di Belanda.
Setidaknya ada ratusan benda pusaka asal Puri Klungkung berada di Museum Leiden dan Museum Tropen.
Semenjak saat itu, kecintaannya terhadap benda pusaka asal Bali terus tumbuh sampai dirinya memutuskan meneruskan program Doktoral Kajian Budaya di Universitas Udayana.
"Pasca Perang Puputan Klungkung, benda-benda bersejarah itu dibawa ke Batavia (Jakarta) oleh pasukan Belanda. Lalu dibawa sebagian ke Belanda, dan menjadi koleksi beberapa museum di sana. Sebagian benda yang di Batavia, saat ini menjadi koleksi Museum Nasional Jakarta," ungkap Rodney.
Perang Puputan Klungkung tahun 1908, menurutnya merupakan sebuah catatan sejarah yang membuat negaranya, Belanda dan Kerajaan Klungkung memiliki ikatan sejarah yang tidak dapat dilupakan.
Namun di balik patriotisme Perang Puputan ini, terdapat kisah-kisah yang tidak seluruhnya dapat diungkapkan dan dituturkan pada generasi muda saat ini.
Hal ini dikarenakan sebagian besar cagar budaya tersebut tidak dapat dilihat lagi di Klungkung.
Rodney melihat masih sangat banyak benda bersejarah dari Kerajaan Klungkung yang tidak sepenuhnya diketahui oleh masyarakat.
Koleksi tersebut adalah benda-benda Kerajaan Klungkung yang kemungkinan dibawa oleh tentara Belanda ketika itu, namun tidak didaftarkan pada museum di Batavia dan Belanda, sehingga saat ini masih menjadi milik beberapa kolektor.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/dua-mata-tombak-era-perang-puputan-klungkung-tahun-1908.jpg)