Dua Mata Tombak Era Perang Puputan 1908 Diserahkan ke Puri Klungkung
Yayasan Westerlaken Foundation asal Belanda menyerahkan hibah dua mata tombak era Perang Puputan Klungkung tahun 1908, ke pihak Puri Klungkung
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Irma Budiarti
Rodney berinisiatif mengembalikan benda bersejarah tersebut karena secara pribadi apa yang terjadi di masa itu adalah sebuah tindakan tidak adil dan tidak tepat.
Ia sebagai pribadi mengaku merasa memiliki tanggung jawab terhadap kedua belah pihak untuk memperbaiki hubungan yang ada.
"Dengan langkah kecil saya ini, saya harap ada kolektor-kolektor lain yang juga mengembalikan benda bersejarah ini kepada pemilik sebenarnya, yaitu Kerajaan Klungkung, dan dapat dipamerkan di Museum Klungkung. Karena ini adalah bagian dari sejarah warisan adi luhur yang seharusnya bisa dilihat oleh segenap masyarakat Klungkung dengan mudah," ungkapnya.
Penglingsir Puri Agung Klungkung Ida Dalem Semaraputra merasa sangat bersyukur dengan dikembalikannya dua benda sejarah era Perang Puputan Klungkung 1908 tersebut.
Meskipun belum dapat dipastikan apakah dua tombak tersebut milik keluarga Kerajaan Klungkung saat itu.
"Ketika Perang Puputan Klungkung, tidak hanya keluarga Puri Klungkung yang berjuang. Tapi segenap rakyat Klungkung juga turut berkorban, sehingga dua mata tombak ini juga menjadi milik masyarakat Klungkung," ungkap Ida Dalem Semaraputra.
Ida Dalem Semaraputra menjelaskan, dua mata tombak tersebut pada masa lampau tidak hanya sebagai senjata berperang.
Namun juga digunakan sebagai sarana dalam upacara adat saat masa kerajaan.
"Dengan dikembalikannya dua mara tombak ini, semoga menjadi awal agar benda-benda bersejarah lainnya asal Puri Klungkung dapat dikembalikan ke Klungkung. Selanjutnya kami serahkan benda bersejarah ini ke Museum Semarajaya," ungkapnya.
Pihaknya juga membuka diri, jika nantinya ada pihak-pihak yang mau meneliti lebih dalam kedua bilah mata tombak tersebut.
Terutama yang tujuannya untuk kepentingan pendidikan dan budaya.
Sementara Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta juga mengapresiasi maksud baik dari Rodney.
Ia berharap benda-benda bersejarah yang menjadi koleksi Museum Semarajaya tidak hanya menjadi barang pajangan.
Namun juga menjadi media pembelajaran untuk generasi saat ini.
"Inventaris berang-barang koleksi di museum, dan semuanya harus punya literasi dan narasi yang bisa menceritakan sesuatu. Sehingga dapat menjadi media pembelajaran bagi masyarakat, untuk mengetahui sejarah dan budayanya," jelas Suwirta.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/dua-mata-tombak-era-perang-puputan-klungkung-tahun-1908.jpg)