Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

PGRI dan IGI Bali Apresiasi Penunjukan Mendikbud Baru, Paling Berat Satukan Dualisme Kurikulum

Pekerjaan terberat dari menteri sekarang sebenarnya adalah bagaimana menyatukan dualisme kurikulum akni antara kurikulum KTSP dan kurikulum K13.

Tayang:
Penulis: Wema Satya Dinata | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Tribun Bali/Wema Satya Dinata
Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Wilayah Bali, Dr. I Gede Wenten Aryasudha 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR–Presiden RI Joko Widodo sudah mengumumkan jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju pada masa jabatan 2019-2024.

Salah satu tokoh yang cukup mencuri perhatian adalah Nadiem Makarim. Pendiri dan CEO Gojek ini akhirnya ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud).

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Wilayah Bali, Dr. I Gede Wenten Aryasudha menilai penunjukan Nadiem sebagai Mendikbud pasti telah melalui proses, dan tidak mungkin ujug-ujug langsung jadi menteri.

“Paling tidak, sebelumnya presiden sudah memantau track record-nya, kemampuan, pendidikan, kompetensinya sehingga diputuskan cocok menjadi Mendikbud,” kata Wenten saat ditemui di Denpasar, Kamis (24/10/2019).

Selanjutnya, PGRI Bali memberi kesempatan kepada Mendikbud yang baru untuk bekerja dulu. 

Ketika Kamu Mudah Goyah karena Perkataan Orang Lain, Simak Video Ini

Latihan Jadi Entrepreneur, Tiga Sekolah di Denpasar Ikut Acara Ayo Menabung dan Berbagi CIMB Niaga 

Menurut Kepala SMP PGRI 2 Denpasar ini, pekerjaan terberat dari menteri sekarang sebenarnya adalah bagaimana menyatukan dualisme kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), yakni antara kurikulum KTSP dan kurikulum K13.

“Oleh karenanya untuk melihat kinerja Mendikbud ini, harus dibiarkan dulu dia berproses dan bekerja, nanti setelah itu baru dinilai hasilnya seperti apa,” tuturnya.

Lebih jauh dikatakannya, Presiden Jokowi memiliki target menciptakan SDM unggul untuk mencapai Indonesia maju. Untuk mencapai SDM unggul kuncinya ada pada pendidikan. Kalau salah pendidikannya, maka apa yang diangan-angankan tak akan bisa tercapai. 

Sehingga harus ada program nyata untuk menciptakan SDM unggul, dan untuk mewujudkan SDM unggul tentu dibutuhkan orang-orang yang punya keunggulan.

Mengenai usia yang membuat publik terkejut karena begitu muda, kata dia, sebaiknya dilihat dulu keberhasilannya. 

“Mungkin karena kesuksesan mengelola GOJEK ini dinilai presiden, diharapkan nanti generasi muda tidak hanya berpikir menjadi pekerja tetapi lebih bagaimana dalam menciptakan pekerjaan. Untuk bisa menciptakan lapangan pekerjaan, maka diperlukan manusia unggul,” ujarnya.

Indonesia Tuan Rumah Piala Dunia U20 2021, Begini Komentar Pelatih Timnas U19 Fakhri Husaini

Suhu Tertinggi di Bali Pernah Capai 35 Derajat Celcius, Belum Pernah Alami Gelombang Panas

Selain itu, pekerjaan berat dari Mendikbud baru adalah secara kelembagaan Dikdasmen dan Dikti (Pendidikan Tinggi) yang kembali digabung.

Padahal pada periode sebelumnya Dikti berada pada Kementerian tersendiri, namun sekarang Dikti kembali digabung ke Dikbud.

“Ini pekerjaan yang dulunya terpisah dan sekarang digabung menjadi sangat luar biasa beratnya,” ucap Wenten.

Pihaknya menyampaikan terkait kinerja Mendikbud Nadiem, baru bisa dinilai setelah prosesnya berjalan karena dalam dunia pendidikan ada tahapan perencanaan, proses dan hasil evaluasi.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved