Membaca Guratan Ketidakmerdekaan Pemuda Bangli Lewat Buku Pupulan Puisi Puspanjali
Pemuda Bangli masih mempunyai sikap kritis dan bisa menyalurkan aspirasi atau unek-uneknya jika terdapat sebuah "wadah".
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Meika Pestaria Tumanggor
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana
TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Selama ini gerakan kepemudaan di Kabupaten Bangli dianggap seperti kehilangan rohnya.
Pasalnya, gaung pergerakan anak muda Bangli seperti tidak terlihat, terlebih banyak dari mereka yang memilih jalan untuk berkarya di kabupaten lain, diluar Bali bahkan hingga ke mancanegara.
Meski demikian, ternyata pemuda Bangli masih mempunyai sikap kritis dan bisa menyalurkan aspirasi atau unek-uneknya jika terdapat sebuah "wadah".
Hal itu terlihat pada saat Dewan Pimpinan Kabupaten Perhimpunan Pemuda Hindu (DPK Peradah) Indonesia Bangli melaksanakan lomba puisi serangkaian peringatan Bulan Bahasa Bali 2019 pada Februari lalu.
Dalam lomba puisi yang juga bekerja sama dengan Pengurus Cabang Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PC KMHDI) Bangli dan Komunitas Bangli Sastra Komala itu, akhirnya lahir sebuah buku Pupulan (kumpulan) Puisi Puspanjali.
• Hindari Stres hingga Atur Pola Tidur, Cara Mudah Diet Sehat Turunkan Berat Badan Tanpa Olahraga
• Live Streaming Bali United vs Barito Putera, Sama-sama Bernafsu Rebut 3 Poin
• Tribun Bali Kids 2019 Hadir Sebagai Wadah Asah Bakat dan Kemampuan Generasi Muda
Buku terbitan Pustaka Ekspresi tersebut dibedah dalam Diskusi Bersama Peradah (DIPA) Bangli #4 di Gedung Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Bangli, Sabtu (26/10/2019).
Pembedah buku I Gede Gita Purnama Arsa Putra melihat, meski puisi-puisi yang dihimpun dalam lomba memiliki tema "Sastra, Bangli lan (dan) Merdeka Seratus Persen," nampaknya banyak pemuda Bangli yang justru menuliskan kegelisahannya.
Keluh kesah dari pemuda Bangli ini, baginya, menandakan bahwa "gumi" Bangli belum sepenuhnya merdeka atau belum merdeka seratus persen seperti tema lomba puisi.
Akademisi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana (FIB Unud) itu mencontohkan, ada beberapa puisi yang ditulis oleh pemuda Bangli yang mengisahkan kekecewaannya terhadap kondisi kabupaten yang berada di tengah-tengah Pulau Bali itu.
Satu diantara puisi-puisi itu seperti puisi yang berjudul "Balik Bukit" karya Diana pada halaman 62 dan 63.
Menurut Gita Purnama, puisi Diana menggambarkan sebuah fenomena yang saat ini justru belum banyak diketahui oleh masyarakat Bangli sendiri bahwa masih ada anak-anak merasakan kesulitan untuk bersekolah.
Situasi semacam ini terjadi di balik bukit Kintamani yang situasinya memang jauh berbeda jika dibandingkan dengan keadaan di daerah lainnya di Bangli.
"Bahwa masih ada anak-anak sekolah yang berjalan kaki di balik bukit Kintamani untuk berangkat sekolah," tuturnya.
• Hamil Anak Laki-Laki atau Perempuan? Ini 17 Tanda Ibu Hamil Anak Perempuan
• Bayi Kartika Putri Kena Penyakit Kuning, Kenali Gejala dan Penyebab Penyakit Kuning pada Bayi
• Kaling Diminta Sisir Pajak dari Desa, Dibuatkan Grup Khusus untuk Laporkan Potensi Pajak ke Bapenda
Selanjutnya ada puisi yang berjudul "Prabangsa" karya Erkaja Pamungsu di halaman 66.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/buku-pupulan-puisi-puspanjali.jpg)