Ini Syarat Bagi Pasien Sebelum Operasi Lasik, Rumah Sakit Mata Bali Mandara Punya 2 Metode
Prosesnya lasik tidak membutuhkan rawat inap, persiapannya hanya membutuhkan waktu 10 sampai 15 menit, dan prosedur lasernya sendiri hanya berlangsung
Penulis: M. Firdian Sani | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Laporan Wartawan Tribun Bali, M. Firdian Sani
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - LASIK (Laser Assisted In Situ Keratomileusis) merupakan suatu prosesur untuk mengurangi atau menghilangkan kelainan refleksi pada mata.
Kelaianan refleksi yang dimaksud mencakup mata minus (myopia) atau dikenal sebagai rabun jauh, plus (hipermetropia) atau dikenal sebagai rabun dekat, dan silindris (astigmat).
Lasik bekerja dengan cara membedah dengan sinar laser, di mana lapisan tipis kornea dibuka untuk memungkinkan sinar laser bisa mengubah bentuk kornea untuk menghilangkan kelainan refraksi baik rabun jauh, dekat, ataupun silinder.
• Seputar Operasi Lasik, Ini Harga di Rumah Sakit Mata Bali Mandara
Kepala perawat unit lasik Rumah Sakit Mata Bali Mandara, Putu Rusmasari mengatakan jika ada beberapa prosedur yang dijalani pasien ketika hendak jalani operasi lasik, namun sebelum itu ada syarat kondisi pasien yang harus dipenuhi termasuk berkonsultasi terlebih dahulu bersama perawat atau tim bedah lasik.
"Kalau mau lasik minimal usianya itu 18 tahun sampai 40 tahun, terus ibu-ibu hamil juga enggak boleh, matanya harus dalam keadaan baik atau tidak alergi, melepas kontak lensa selama 14 atau 30 hari sebelum dilasik," jelasnya.
Setelah berkonsultasi dengan tim bedah lasik dan semua syarat itu sudah terpenuhi, maka prosedur selanjutnya skrining.
Skrining lasik merupakan pemeriksaan yang dilakukan sebelum tindakan lasik untuk menentukan seseorang bisa lasik atau tidak.
Pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan lab refraksi lanjutan, topografi kornea, non-contact tonometri, pentacam dan wavescan.
"Setelah itu nanti ditentukan hasilnya, apa layak untuk dilasik atau tidak. Kalau layak dilasik, dokter akan langsung membuatkan jadwal kapan proses lasik berlangsung," ujarnya.
Prosesnya lasik tidak membutuhkan rawat inap, persiapannya hanya membutuhkan waktu 10 sampai 15 menit, dan prosedur lasernya sendiri hanya berlangsung kurang lebih 30 detik.
Dengan didampingi dokter dan perawat, kita hanya terbaring dan dokter akan menjelaskan semua langkah selama proses operasi berlangsung.
"Jadi pasien lengkap dengan pakaian operasi lasik, lalu pasien cukup berbaring setelah diberi obat tetes mata, lalu alat lasik, namanya relex smile akan mengerjakan semuanya," ujarnya.
Lasik sendiri ada dua tipe, yakni femto lasik dan smile lasik.
"Nanti ditentukan setelah skrining, apa yang cocok, apa pakai metode femto lasik atau smile lasik," katanya.
Made Surya Mahardika selaku perawat tim lasik Rumah Sakit Mata Bali Mandara mengatakan femto lasik itu salah satu prosedur lasik dimana pembuatan flapnya menggunakan laser tanpa alat bedah lain.
"Laser itu digunakan untuk membuat bukaan (flap), lasernya itu punya jutaan bintik cahaya yang langsung ditembakkan ke mata pasien setelah diberi obat tetes penghilang rasa sakit. Setelah flap ditembakan laser, maka flap dibuka perlahan lalu alat ini akan bekerja mengoreksi mata minus tadi dengan menggunakan excimer laser, setelah beberapa detik flap kembali ditutup," jelasnya.
Sedangkan smile lasik ini koreksi korneanya sama-sama menggunakan laser, hanya saja luka yang dibuat pada metode ini lebih sedikit jika dibanding dengan metode femto lasik.
"Pada metode smile lasik, laser bekerja membuat jaringan kornea tipis yang berbentuk seperti lensa (lenticule) dan membentuk sedikit luka di salah satu sisi lensa mata, dari luka itu lenticule dikeluarkan sehingga membuat penglihatan kembali normal," ujarnya.
Rusmasari mengatakan jika setelah operasi lasik dengan metode femto lasik membutuhkan waktu satu bulan untuk peyembuhan, sedangkan smile lasik hanya butuh waktu satu minggu.
"Setelah operasi membutuhkan proses penyembuhan yang berbeda-beda, kalau femto lasik cenderung lebih lama, bisa sampai saru bulan, kalau smile hanya 1 sampai dua minggu saja," kata dia.
Proses penyembuhan menjadi berbeda karena pada femto lasik luka lebih banyak dibandingkan dengan smile lasik, tetapi luka itu tidak terasa sama sekali karena dokter sebelumnya akan memberikan obat tetes yang berfungsi untuk menghilangkan rasa sakit.
Setelah operasi, keesokan harinya pasien sudah bisa melihat normal kembali dan tidak perlu memakai kacamata lagi.
"Setalah operasi, keesokan harinya itu pasien sudah bisa lepas kacamata, jadi normal kembali,"
Untuk masa pemulihan, Rusmasari menyarankan untuk menghindari mata dari air dan sinar radiasi berlebih juga menjaga mata agar tidak lelah.
"Pada masa pemulihan, mata dihindari dari air karena luka sehabis operasi akan membuat mata terinfeksi. Selain itu, mata juga harus dihindari dari sinar-sinar radiasi yang terdapat di layar smartphone atau tv," ujarnya.
"Mata tidak boleh kelelahan, jadi harus dihindari dulu nonton atau main handphone lama-lama," paparnya.
Sampai September lalu, jumlah pasien yang telah melakukan lasik di Rumah Sakit Mata Bali Mandara sebanyak 249.
"Tahun 2018 ada 343, tahun 2019 sampai September ini 249," ujar Luh Nyoman kusniati, SKM selaku Kasubag Sistem Informasi Manajemen (SIM) Rumah Sakit Mata Bali Mandara. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pasien-sedang-berkonsultasi-di-ruang-lasik-rumah-sakit-bali-mandara.jpg)