Breaking News:

Pasien Gangguan Jiwa dengan Resume Ide Bunuh Diri Tak Ditanggung BPJS,Dokter Rai Tanyakan Sistem Ini

Ketika pulang pasien dan keluarganya kaget karena karena katanya tak bisa ditanggung BPJS karena di resume ada kata-kata ide bunuh diri.

TRIBUN BALI/M. FIRDIAN SANI
Dr I Gusti Rai Wiguna, SpKJ M, psikiater di RSUD Wangaya Denpasar, saat ditemui di Klinik SMC Medical Center, Selasa (5/11/21019) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dr I Gusti Rai Wiguna, SpKJ M, adalah seorang psikiater di RSUD Wangaya Denpasar.

Baru-baru ini ia dibuat geram karena sistem BPJS terkait regulasi pasal mengenai persoalan bunuh diri yang biayanya tidak dicover BPJS.

Ia sempat mencurahkan kekesalannya itu di media sosial.

Lewat akun Facebooknya, ia menjelaskan jika pasien yang ia tangani dengan ide bunuh diri tidak ditanggung BPJS.

"Pasien saya yang memang dirawat jalan dengan gangguan bipolar kini relaps menimbulkan perburukan gejala hingga ada keinginan (belum perilaku) bunuh diri yang sangat kuat dan otomatis. Untuk mencegah keinginan bunuh diri itu menjadi perilaku bunuh diri saya putuskan dirawat inap dan menaikkan dosis obatnya," tulisnya di akun facebook miliknya.

Begini Momen Unik Raffi Ahmad Menari Bali & Nagita Slavina Terlihat Cantik Kenakan Kebaya Endek Bali

Sarasehan Menuju Bali Pusat Seni Kontemporer Dunia Awali Festival Seni Bali Jani Hari Ini

Ia mengatakan secara ilmu kedokteran jiwa, bipolar merupakan gangguan yang nyata di otak, salah satu gejalanya memang keinginan bunuh diri.

"Ketika pulang pasien dan keluarganya kaget karena karena katanya tak bisa ditanggung BPJS karena di resume ada kata-kata ide bunuh diri. Saya pun kecewa betapa buruknya stigma kesehatan negara ini terhadap kesehatan jiwa. Keinginan Bunuh Diri itu adalah gejala (bukan kemauan pasien) akibat gangguan otak yang bisa diobati," tambahnya.

Sebelum kejadian ini, ia menyadari bahwa ada retriksi atau batasan-batasan yang ditanggung BPJS.

"Tindakan bunuh diri tidak ditanggung, itu sudah tahu dari dulu dan kita juga protes," ucapnya.

Menurutnya aturan ini masih belum jelas, ia menganggap aturan ini hanya terbungkus oleh stigma buruk tentang gangguan jiwa.

Halaman
12
Penulis: M. Firdian Sani
Editor: Meika Pestaria Tumanggor
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved