Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Tips Sehat untuk Anda

Riset: Faktor Sosial Aktif Membawa Stres dan Memicu Masalah Kesehatan Mental

Beberapa orang menjadi rentan menghabiskan lebih banyak uang sebagai kondisi psikologis pra-eksistensi atau karakter perilaku

Tayang:
Editor: Irma Budiarti
Freepik via Grid.ID
Ilustrasi gaya hidup hedon - Riset: Faktor Sosial Aktif Membawa Stres dan Memicu Masalah Kesehatan Mental 

Riset: Faktor Sosial Aktif Membawa Stres dan Memicu Masalah Kesehatan Mental

TRIBUN-BALI.COM - Riset: Faktor Sosial Aktif Membawa Stres dan Memicu Masalah Kesehatan Mental

"Hidup tidak mahal, yang mahal adalah gengsi".

Kalimat tersebut cukup menggambarkan kondisi masyarakat saat ini yang selalu merasa pendapatannya kurang padahal sebenarnya ia sendiri yang tidak pandai mengatur uang.

Beth (21) perempuan yang tinggal di Bournemouth, Inggris, mengaku tidak bisa lepas dari "utang bersosialisasi" karena tak kuasa menolak ketika teman-temannya mengajak pergi.

Ia banyak menghabiskan uang untuk membeli pakaian, membayar keanggotaan gym dan bersenang-senang di malam hari.

Salah satu alasan Beth sulit menolaknya adalah karena dia tidak mau melihat unggahan media sosial kebersamaan teman-temannya tanpa dirinya.

"Itu akan membuatku merasa melewatkannya," kata Beth.

Meski begitu, pola hidup seperti itu bak siklus yang tak pernah berakhir.

Beth terus menerus membeli barang atau hal melebihi kemampuannya hanya agar tak melewatkan momen bahagia bersama kelompok sosialnya.

Beth tidak sendiri. Menurut riset dari KPMG UK, sebuah perusahaan yang memiliki spesialisasi di bidang audit, pajak dan servis penasehat, lebih dari setengah warga Inggris (52 persen) punya utang karena menggunakan kartu kredit (21 persen) dan overdraft (13 persen) atau meminjam uang dari pasangan (12 persen).

Sebuah survei terbaru dari perusahaan perencanaan finansial, Portafina, menemukan bahwa satu dari lima warga Inggris menghindari obrolan tentang uang, dan 24 persennya mengatakan bahwa teman-teman mereka bisa membeli barang-barang yang tidak bisa mereka beli.

Konsultan psikolog klinis dari Cardinal Clinic, Dr Roz Halari menjelaskan, ketika media sosial dan FOMO (Fear of Missing Out - takut ketinggalan) mengambil peran, alasan orang berutang tidak hanya untuk bersosialisasi.

Perjalanan Karir Ahok, Sempat Vakum dari Dunia Politik Kini Bergabung ke BUMN

Harta Kekayaannya Capai Rp 43 M, Calon Hakim Agung Artha Theresia Tercatat Punya 35 Tanah & Bangunan

Beberapa orang menjadi rentan menghabiskan lebih banyak uang sebagai kondisi psikologis pra-eksistensi atau karakter perilaku.

Kondisi ini menyebabkan mereka seolah tidak punya batasan finansial.

Banyak orang menjadi overspending, atau memiliki pengeluaran berlebih.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved