Pemilik Penginapan dan Warung Karaoke di Pulau Obi Buleleng Dilarang Terima Tamu Short Time

Para pemilik penginapan dan warung karaoke di Jalan Pulau Obi, Buleleng, Bali diberi pembinaan oleh Camat Buleleng, Kamis (28/11/2019).

Pemilik Penginapan dan Warung Karaoke di Pulau Obi Buleleng Dilarang Terima Tamu Short Time
TRIBUN BALI
PEMBINAAN - Pemilik penginapan dan warung karaoke di Jalan Pulau Obi, Buleleng, saat diberikan pembinaan oleh Camat Buleleng serta Asisten Administrasi Pemerintahan Setda Buleleng, Kamis (28/11/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Para pemilik penginapan dan warung karaoke di Jalan Pulau Obi, Kelurahan Banyuning, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, Bali diberi pembinaan oleh Camat Buleleng dan Asisten Administrasi Pemerintahan Setda Buleleng, Kamis (28/11/2019).

Pembinaan itu sebagai tindak lanjut aksi demo yang dilakukan oleh warga setempat terkait penginapan maupun warung karaoke di Jalan Pulau Obi yang diklaim kerap dijadikan sebagai tempat prostitusi.

Camat Buleleng, Gede Dody Sukma Oktavia Askara bersama Asisten Administrasi Pemerintahan Setda Buleleng, I Putu Karuna mengimbau kepada tujuh pemilik penginapan serta tiga pemilik warung karaoke agar segera mengurus izin usahanya. Bila belum mengantongi izin usaha, penginapan maupun karaoke itu tidak diperbolehkan untuk beroperasi.

Putu Novi, pemilik Penginapan Wayan meminta kepada pemerintah agar memperlakukan hal yang sama bagi penginapan-penginapan lain yang ada di luar Pulau Obi.

"Penutupan sementara ini sangat baik dan menjadi pelajaran buat kami untuk segera mengurus izin. Namun saya harap ini dilakukan secara merata. Saya yakin banyak penginapan di luar sana yang juga belum memiliki izin sah. Jadi saya harap pemerintah bisa bersikap adil," jelasnya.

Novi juga merasa keberatan jika usaha yang dibangun oleh orangtuanya itu disebut sebagai tempat prostitusi. Ia pun meminta kepada petugas Satpol PP untuk segera mencabut baliho yang dipasang oleh warga tepat di pintu masuk sebelah selatan Jalan Pulau Obi.

"Saya agak keberatan kalau usaha kami itu disebut sebagai tempat prostitusi. Kami tidak bisa memasang cctv di setiap kamar, sehingga kami tidak tahu apa saja yang dibuat oleh pengunjung. Sebutan kalau penginapan kami itu sebagai tempat esek-esek sangat buruk buat saya. Jadi saya minta spanduk itu diturunkan karena sangat mengganggu kami para pengusaha penginapan," katanya.

Sementara itu, Kepala Lingkungan Banyuning Timur, Putu Suardika mengungkapkan bahwa masyarakat sejatinya menuntut agar seluruh penginapan baik yang sudah berizin maupun yang belum mengantongi izin agar segera ditutup secara permanen. Ini dilakukan untuk membersihkan nama Jalan Pulau Obi yang kerap dijuluki sebagai tempat prostitusi.

"Walapun sudah berizin, masyarakat itu ingin agar penginapan itu ditutup total. Kalau pengusaha berjanji akan mematuhi norma susila, akan kami kembalikan ke masyarakat lagi untuk menilai. Tapi rasanya susah untuk masyarakat menerima," ucapnya.

Menanggapi hal tersebut, Camat Buleleng Gede Dody Sukma Oktavia Askara menegaskan bahwa pihaknya tidak bisa memenuhi keinginan masyarakat untuk menutup secara permanen penginapan maupun warung karaoke, kendati sudah memiliki izin. Pemerintah, sebut Dody, tidak boleh menutup mata pencaharian orang lain.

"Itu namanya arogan, tidak boleh. Manakala si pemilik ingkar dari pernyataannya baru lah pemerintah bisa melakukan tindakan tersebut. Itu pun harus melewati banyak tahapan, seperti pembinaan terlebih dahulu," terangnya.

Terkait tuntutan agar penginapan lain di wilayah Kecamatan Buleleng juga segera ditindak, Dody berjanji akan melakukannya pada Desember mendatang. Pihaknya akan melakukan penertiban dan mengidentifikasi semua penginapan yang ada di Kecamatan Buleleng.

Selain diberikan pembinaan, para pemilik usaha juga diminta untuk membuat surat pernyataan untuk segera mengurus izin usaha, serta berjanji akan mematuhi norma-norma susila dan selektif dalam menerima tamu.

"Tidak boleh lagi ada yang shortime. Mereka harus cermat dalam menerima tamu. Kamar yang disewakan harus 24 jam atau one night. Ada aturan check in dan check out-nya. Tidak ada lagi yang dibayar per jam," tutupnya. (rtu)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Ni Ketut Sudiani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved