Air Tukad Badung Merah Darah

Semua Usaha Sablon di Denpasar Ternyata Tak Berizin, Tapi Pemkot Tak Mau Menutup Karena Urusan Perut

Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Batik Sablon Indonesia (APBSI) setidaknya ada sebanyak 200 usaha sablon di Denpasar.

Semua Usaha Sablon di Denpasar Ternyata Tak Berizin, Tapi Pemkot Tak Mau Menutup Karena Urusan Perut
TRIBUN BALI/ I PUTU SUPARTIKA
Penyegelan tempat usaha sablon milik Nurhayati di Jalan Pulau Misol, Kamis (28/11/2019) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- DLHK Denpasar menyebut, banyak pengusaha sablon yang kucing-kucingan.

Saat siang mereka tidak membuang limbah, namun malam-malam sehingga saat pagi air akan berbuih atau berwarna.

Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Batik Sablon Indonesia (APBSI) setidaknya ada sebanyak 200 usaha sablon di Denpasar.

Belum termasuk yang belum tergabung dengan APBSI.

BREAKING NEWS Usaha Sablon yang Bikin Tukad Badung Jadi Merah Darah Disegel Satpol PP Denpasar

Usaha Sablon Miliknya Yang Membuat Tukad Badung Merah Darah Disegel, Nurhayati Cengar-cengir

Limbah Usaha Sablonnya Membuat Tukad Badung Merah Darah, Ini Pengakuan Nurhayati

Hal tersebut diungkapkan oleh Kabid Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup DLHK Kota Denpasar, IA Indi Kosala Dewi.

"Beberapa yang tidak masuk kami sudah sarankan bergabung ke APBSI agar ada yang mengawasi. Ada juga yang melanggar sudah kami Tipiring," katanya, Kamis (28/11/2019).

Sementara itu, pengawasan dari DLHK dilakukan dengan melaksanakan sosialisasi yang kemudian dilanjutkan dengan kunjungan rutin.

"Untuk tindakan kami hanya bisa tipiring saja. Kalau eksekusi koordinasi dengan Satpol PP. Kami juga koordinasi dengan PN Denpasar, kalau dua kali langgar dan tipiring langsung masuk kurungan," katanya.

Terkait izin usaha sablon, Indi mengatakan semua usaha sablon di Denpasar tak berizin.

Karena semua tak memenuhi untuk mendapat ijin seperti lahan.

"Kalau usaha sablon tidak ada berizin, kalau pengurusan tidak bisa mengikuti persayaratan. Seperti lahan, sehingga syarat tak bisa melengkapi mereka," katanya.

Ketika ditanya kenapa yang tak berizin tersebut tak ditutup, pihaknya mengatakan berkaitan dengan urusan perut.

"Itulah kita Pemkot Denpasar masih memberikan, karena itu salah satu penghasilan mereka dan kami memberikan mereka berusaha," katanya.

Namun dia meminta agar pengusaha tersebut ikut menjaga lingkungan agar tak membuang limbah sembarangan. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved