Anggaran Pitra Yadnya tahun 2020 Jadi Rp 250 Juta per Kecamatan.

Bupati Jembrana, I Putu Artha berencana menaikkan anggaran Pitra Yadnya di tahun 2020 sehingga menjadi sekitar Rp 250 juta per kecamatan.

Anggaran Pitra Yadnya tahun 2020 Jadi Rp 250 Juta per Kecamatan.
Tribun Bali
PERSIAPAN NGABEN- Seorang warga tengah membuat gajah mina beberapa hari lalu. Ini merupakan jenis petulangan yang digunakan dalam upacara Pitra Yadnya.

TRIBUN-BALI.COM, JEMBRANA - Bupati Jembrana, I Putu Artha berencana menaikkan anggaran Pitra Yadnya di tahun 2020 sehingga menjadi sekitar Rp 250 juta per kecamatan. Nilai ini naik Rp 50 juta dibandingkan anggaran tahun 2019.

Hal itu ia sampaikan saat menghadiri upacara pitra yadnya lan penyekahan kinembulan "Praja Kerti" di Bangsal Pura Dalem Candikusuma, Jembrana. Turut dalam acara tersebut Wakil Bupati, I Made Kembang Hartawan, Anggota DPRD Jembrana dari Dapil Melaya, PHDI Jembrana, dan ribuan masyarakat kecamatan Melaya yang mengikuti prosesi tersebut.

Bupati Artha menuturkan di setiap kecamatan tersebut, Pemkab mengucurkan dana masing-masing Rp 200 juta. Dengan harapan, peserta upacara tidak dikenakan biaya alias gratis.

Pada tahun 2020, atas permintaan masyarakat dan hasil evaluasi, Pemkab Jembrana menaikkan anggaran menjadi Rp 250 juta di setiap kecamatan.

"Itu diharapkan (kenaikan anggaran) dapat meng-cover semua kebutuhan dan tentunya gratis tanpa pungutan bagi peserta," ucap Artha, Senin (2/12/2019).

Menurutnya, pitra yadnya massal sudah merupakan tradisi bagi masyarakat Jembrana. Selain menjadi tempat simakrama, pitra yadnya massal bisa memutar roda perekonomian masyarakat di sekitar tempat upacara serta untuk meringankan beban masyarakat Jembrana.

Pada tahun 2019 Pemkab Jembrana melaksanakan upacara pitra yadnya massal gratis di 5 kecamatan se-Kabupaten Jembrana dan salah-satunya di Desa Candikusuma Kecamatan Melaya.

"Pitra Yadnya massal itu adalah tradisi Jembrana. Selain tradisi itu juga berdampak pada ekonomi warga sekitar," ungkapnya.

Artha menjelaskan, nantinya masyarakat yang mengikuti prosesi agar selalu menjaga kebersihan areal upacara. Upakara juga sebaiknya tidak menggunakan bahan dari plastik sekali pakai. Sesuai dengan instruksi dari Gubernur Bali, I Wayan Koster, bahwa melalui Peraturan Gubernur Nomor 97 Tahun 2018 Tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai.

"Harapannya pada upacara-upacara itu tidak menggunakan plastik sekali pakai," tegasnya.

Informasi yang dihimpun, upacara Pitra Yadnya Lan Panyekahan Kinembulan "Praja Kerti", terdapat 10 peserta yang mengikuti prosesi memungkah. Dan 44 peserta prosesi nyekah. Semuanya berasal dari 13 desa adat se ke-kecamatan Melaya.

Prosesi sudah berlangsung dari 18 November dan berakhir pada 2 Desember 2019. Semua biaya berasal dari dana Pemkab Jembrana sebesar Rp 200 juta. (ang)

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana
Editor: Ni Ketut Sudiani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved