Ida Shri Begawan Khresna Ardhana Kepakisan Jalankan Sesana Kesulinggihan di Australia
Seusai melaksanakan upacara Dwi Jati (penyucian diri menjadi Sulinggih), Ida Begawan akan kembali ke Australia untuk melayani umat di sana
Penulis: Wema Satya Dinata | Editor: Irma Budiarti
Ida Shri Begawan Khresna Ardhana Kepakisan Jalankan Sesana Kesulinggihan di Australia
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - "Ratu sebenarnya dari dulu tidak pernah membayangkan seperti ini, dan tidak pernah menginginkan seperti yang terjadi sekarang,".
Itulah kalimat pertama yang dikeluarkan seorang Sulinggih asal Bali yang bermukim di Goal Coast, Brisbane, Australia, sejak 2006 silam, saat dihubungi Tribun Bali, Jumat (13/12/2019) malam.
Seusai melaksanakan upacara Dwi Jati (penyucian diri menjadi Sulinggih), pria yang saat walaka bernama Jro Gede Putu Wirata (56), diberi nama baru bergelar Ida Shri Begawan Kreshna Ardhana Kepakisan.
Ida merupakan perantauan dari Desa Pergung, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali, yang sudah lama tinggal di Australia, dan juga beristrikan orang Australia.
Lebih lanjut Ida menceritakan, sudah memiliki keinginan menjadi pelayan umat sudah dari dulu.
Dimulai menjadi Jero Gede dan memberikan pelayanan sebagai seorang pemangku.
• Dit Intelkam Polda Bali Bertemu Perwakilan Media Online, Bahas Penangkalan Hoax hingga Isu SARA
• Cara Membersihkan Karang Gigi Tanpa Ke Dokter, Gunakan Saja 7 Bahan Ini, Bisa Langsung pada Rontok
“Ratu mulai ngiring sesuhunan dan menjadi mangku sejak tahun 2011. Selanjutnya, 3 tahun lalu meeka jati menjadi Jero Gede. Mulai melayani umat di Goal Coast, Brisbane, agar tetap ingat pada leluhur,” kata Ida Begawan, yang menjalani upacara padiksan di Griya Agung Dalam Kepakisan, Banjar Baler Pasar Desa Pergung, Kecamatan Mendoyo, Jembrana ini.
Tidak hanya umat Hindu saja yang dilayani, tetapi juga umat beragama lainnya yang ada di Brisbane.
“Jadi drike Ratu ten rasis. Ratu berusaha menyatukan semua umat beragama,” akunya.
Motivasinya adalah di Brisbane banyak yang memimpikan dirinya menjadi seorang sulinggih.
Bahkan sejak 5 tahun lalu dirinya tekun mendalami profesi spiritual.
Diakui, saat dirinya menjadi Jero Gede, sudah ada dorongan dari semua umat beragama baik Hindu, Kristen, Islam, Budha dan lainnya, mendukung Ida melakukan pediksan.
Selain itu juga dorongan dari semeton di Bali, keluarga dadia, keluarga Sri Kepakisan maupun masyarakat lainnya.
“Akhirnya Ratu melinggih kemarin tanggal 11. Tanggal 10 mediksa, tanggal 11 medwijati,” ungkapnya.
• Dicopot dari Jabatan Dirut Garuda, Ternyata Ari Askhara Juga Jadi Komisaris di 6 Perusahaan Ini
• Gejala Seseorang Terjangkit HIV/AIDS Bisa Terlihat Pada Kulitnya, Diantaranya Ruam Dan Lepuh
Ida mengaku sangat bersyukur memiliki seorang istri yang pengertian terkait kehidupan yang dijalaninya hingga menjadi sulinggih.
Dulu istrinya saat walaka bernama Louisa Theresa Wirata (58), merupakan seorang guru spiritual di Australia.
Menurutnya menjadi seorang sulinggih ibarat seperti bayi yang baru lahir, sehingga harus mengikuti sesana (aturan-aturan) terkait kesulinggihan.
“Ratu akan berusaha membawa nama baik kabupaten dan provinsi, di luar Indonesia, semoga bisa melayani umat, baik di Bali, Indonesia maupun Australia,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Puskor Hindunesia Ida Bagus Susena Pantra yang juga hadir saat upacara padiksan, mengatakan salah satu alasan dwi jati Ida Shri Begawan Kreshna Ardhana Kepakisan dan Ida Shri Begawan Istri Kreshna Ardhana Kepakisan adalah karena banyak warga Australia, Indonesia, Bali yang ingin ada seorang sulinggih di Brisbane.
Maka dari itu, setelah seluruh rangkaian prosesi upacara selesai, Ida Begawan akan kembali ke Australia untuk melayani umat di sana.
“Beliau di sini sekitar empat bulan lagi untuk memperdalam ajaran kependetaan sebelum resmi menjalankan swadharma sebagai sulinggih,” kata Gus Susena.
• Gemar Bertapa dan Panjang Umur Bagi Mereka yang Lahir Sabtu Pon Sinta, Ini Jalan Hidupnya
• Menteri BUMN Erick Thohir Tertawa Saat Dengar Anak Usaha Bernama Garuda Tauberes Indonesia
Ia menerangkan, seluruh rangkaian upacara dwi jati telah selesai dilaksanakan diawali dengan nyeda rage, selanjutnya tanggal 11 Desember langsung napak yang dipimpin seorang nabe Ida Pedanda Gde Oka Manuaba.
Di sisi lain padiksan dilaksanakan atas desakan dan kebutuhan umat.
Umat Hindu di Australia jumlahnya cukup banyak, namun tersebar di beberapa tempat, seperti Brisbane, Perth, New South Wales, Canberra dan sebagainya.
Contohnya, jumlah Umat Hindu di Adelaide sekitar 55 KK.
“Cukup tersebar, tetapi orang Bali banyak terkonsentrasi seperti di Adelaide dan Perth,” sebutnya.
Sayangnya, di Australia belum ada pura, yang ada hanyalah bangunan pelinggih.
Ke depan dengan adanya seorang sulinggih akan didirikan pura di Adelaide, dan saat ini sudah diajukan proposal ke Pemerintah Australia.
“Kalau sudah fix akan mendirikan pura di sana, rencananya Puskor akan memfasilitasi ke konsulat atau kedubes agar posesnya menjadi lebih mudah,” ujarnya.
(*)