Serba Serbi
Mitos dan Musik Misterius di Sungai Petanu Gianyar Bali
Di zaman dengan kemajuan teknologi yang demikian pesat seperti sekarang, mitos mungkin tampak seperti omong kosong belaka. Namun, di Bali kita akan
Penulis: Widyartha Suryawan | Editor: Ady Sucipto
TRIBUN-BALI.COM - Apakah yang ada di benak Anda tentang mitos?
Di zaman dengan kemajuan teknologi yang demikian pesat seperti sekarang, mitos mungkin tampak seperti omong kosong belaka.
Namun, di Bali kita akan menemukan banyak hal yang sering dikait-kaitkan sebagai mitos.
Misalnya ketika melintasi jalan yang dianggap angker, maka disarankan untuk membunyikan klakson.
Ada pula imbauan para orang Bali tradisional agar tidak bersiul ketika malam hari, karena dianggap akan mengundang hal-hal negatif.
• Misteri Musik Alam Gaib yang Terdengar di Sekitar Sungai Petanu Gianyar, Ini Pengakuan Warga
• Mangku Dalem: Suaranya Hilang saat Didekati, Begini Cerita Warga Banjar Lebah Soal Musik Alam Gaib
• Perjalanan Musik Pop Bali: Dari Yong Sagita, Bayu KW, hingga Lolot Band
Terbaru, warga yang tinggal di dekat aliran Sungai Petanu, Banjar Lebah, Desa Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, Bali mendengar suara musik yang tak diketahui asalnya.
Menurut warga setempat, musik tersebut selalu terdengar setiap tengah malam hingga pukul 03.00 Wita.
Warga kemudian menduga musik tersebut berpusat di Sungai Petanu, dan merupakan musik yang dimainkan wong samar atau di Bali kerap disebut gamang.
Keyakinan warga bahwa itu merupakan musik dari alam gaib, lantaran musik yang menggema tak pernah bisa tertangkap alat perekam.
Mitos dan Pemaknaan Kode Kultural
Dalam Kajian Budaya (Cultural Studies), mitos juga menjadi perhatian dalam membaca dan memaknai kode-kode kultural.
Menurut Barthes, ada dua macam sistem pemaknaan yaitu denotasi dan konotasi.
Pertama, makna denotasi adalah tingkat makna pertama, yang diungkapkan secara deskriptif dan literal; serta dipahami oleh hampir semua anggota dalam sebuah komunitas budaya.
Dalam kasus ini, maka pemaknaan denotasinya hanya berhenti pada: warga yang tinggal di dekat aliran Sungai Petanu, Banjar Lebah, Desa Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, Bali mendengar suara musik yang tak diketahui asalnya; yang muncul setiap malam, dan rutin terdengar menjelang tahun baru.
Kedua, makna konotatif adalah tingkat makna kedua yang tercipta dengan cara menghubung-hubungkan sebuah peristiwa dengan penanda-penanda budaya yang lebih luas seperti keyakinan-keyakinan, sikap, dan ideologi-ideologi tertentu.
Konotasi-konotasi tersebut kemudian mendominasi pikiran anggota suatu komunitas budaya sehingga sebuah peristiwa tampak normal dan alamiah.
Dalam kondisi seperti inilah, konotasi-konotasi yang demikian kemudian disebut sebagai mitos.
Chris Barker dalam satu bukunya menulis: "mitos merupakan konstruksi sosial, yang tampak seperti kebenaran-kebenaran universal yang terberi (pre-given) yang tertanam dalam nalar sehari-hari."
Berkembangnya makna konotasi yang telah menjadi mitos inilah yang menyebabkan warga mempercayai musik tersebut berpusat di Sungai Petanu, dan merupakan musik yang dimainkan wong samar atau di Bali kerap disebut gamang.
Warga kemudian mengaitkannya dengan sistem kepercayaan mereka sehingga menyimpulkan musik tersebut berasal dari alam gaib.
Menghapus Mitos?
Mitos kerap dibenturkan dengan kemajuan (modernitas).
Kepercayaan terhadap mitos-mitos akan dianggap sebagai hambatan untuk menjadi maju dan modern.
Menghapus mitos-mitos tradisional dalam struktur masyarakat Bali tampaknya tak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat -- atau bahkan masyarakatnya memang tak mengkhendaki untuk menghapus mitos-mitos itu.
Belum lama ini, UNHI Denpasar mewacanakan akan membuka program studi Ilmu Pengleakan yang mempelajari ilmu kebatinan khas Bali.
Ilmu pengeleakan yang dikembangkan UNHI nanti untuk kepentingan-kepentingan yang sifatnya spiritual, dan bukan destruktif untuk menyakiti orang lain.
Rencana pembukaan program studi Ilmu Pengleakan ini menuai pro dan kontra di masyarakat -- terutama jika diamati dari komentar para netizen di media sosial.
Ada yang mendukung, ada pula yang sensi.
"Orang lain sudah terbang ke bulan, di sini masih saja bahas ngeleak. Sing nekang pipis to, Yan! (Tidak mendatangkan uang itu, Bro!)" demikian komentar salah satu netizen yang kontra.
Di Eropa, orang-orang sudah memiliki semangat revisi atas kepercayaan-kepercayaan tradisional, memisahkan pengaruh-pengaruh keagamaan dari kehidupan mereka sekitar tahun 1695-1815).
Era tersebut juga dikenal dengan Abad Pencerahan atau Zaman Pencerahan (Aufklärung).
Pada era itulah, orang-orang Barat mulai optimis dengan kemampuannya akan kemajuan, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan.
Namun demikian, modernitas dan "kemajuan" pada akhirnya juga tak luput dari kritik.
Bahwa apa yang diyakini sebagai kemajuan itu sebenarnya juga telah menjadi mitos; mitos-mitos modern!
Jadi, bagaimana Anda memaknai mitos?
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/menantang-maut-hanya-untuk-anak-kini-penambang-liar-harus-menghadapi-situasi-ini.jpg)