Takut Dihanyutkan Banjir, Nano Bubble di Tukad Badung Denpasar Dicabut

Takut nano bubble yang dipasang di Tukad Badung Denpasar hanyut diterjang banjir, Dinas PUPR copot sementara alat penjernih air itu

Tribun Bali/I Putu Supartika
Pemasangan alat penjernih di Tukad Korea, Denpasar, Bali, beberapa waktu lalu. Takut Dihanyutkan Banjir, Nano Bubble di Tukad Badung Denpasar Dicabut 

Takut Dihanyutkan Banjir, Nano Bubble di Tukad Badung Denpasar Dicabut

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Hujan yang mulai melanda wilayah Denpasar, belakangan ini membuat Dinas PUPR Kota Denpasar takut alat penjernih air atau nano bubble yang dipasang di Tukad Badung, Denpasar, Bali, hanyut.

Alat penjernih air atau nano bubble yang merupakan bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) ini pun dicabut.

Diketahui, alat ini merupakan bantuan dari KLHK atas perintah Presiden RI Joko Widodo karena melihat air Tukad Korea ini masih keruh.

Pemain Bali United Michael Orah Minta Fans Merayakan Juara dengan Positif

Jelang Natal dan Tahun Baru 2020, Polda Bali Sosialisasi Cegah Upaya Doktrinisasi Paham Radikalisme

Alat ini pun mulai dipasang Senin (17/6/2019) silam.

Pencabutan alat ini oleh Dinas PUPR dikarenakan pihaknya takut nano bubble dihanyutkan banjir.

Kabid Sumber Daya Air Dinas PUPR Kota Denpasar, Ida Ayu Tri Suci mengatakan, alat penjernih air tersebut sengaja dicabut sejak akhir November 2019 lalu.

"Memang sengaja dicabut. Ini untuk antisipasi kerusakan dan hanyut ketika terjadinya banjir bandang saat musim penghujan saat ini," katanya, Selasa (17/12/2019).

Kisah Asmara Pelawak Ginanjar dan Tiara Amalia Jatuh Cinta Pada Wanita yang Beda Usia 32 Tahun

PSN Ngada Tolak Sanksi Panitia Disiplin PSSI

Alasan ini juga diperkuat selama ini belum ada kajian terkait kekuatan alat ini saat diterjang air bah tiba-tiba.

"Sehingga kami bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar memilih untuk mencabut alat tersebut selama waktu yang belum ditentukan," imbuhnya.

Selain karena air deras, pihaknya juga khawatir banyaknya sampah di musim penghujan yang bisa merusak nano bubble.

"Jangan sampai alat itu rusak, karena harganya juga cukup mahal. Untuk menjaga kondisinya tetap bagus, ya kami ambil tindakan itu sementara waktu," katanya.

(*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved