Demam Berdarah di Bali

Waspada Demam Berdarah di Musim Hujan, Ada 971 Kasus di Badung, 2 Orang Meninggal Dunia

Sepanjang 2019 kasus DBD di Kabupaten Badung terus mengalami peningkatan secara drastis dari tahun yang sebelumnya.

pixabay.com
Ilustrasi - Nyamuk Aedes aegypti penyebab DBD. 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Memasuki musim hujan di Badung, Bali mulai diantisipasi adanya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).

Sepanjang 2019 kasus DBD di Kabupaten Badung terus mengalami peningkatan secara drastis dari tahun yang sebelumnya.

Dinas Kesehatan Kabupaten Badung mencatat sepanjang 2019 ada sebanyak 971 kasus di gumi keris.

Bahkan hingga mengakibatkan dua orang meninggal dunia karena terkena DBD.

Kepala Dinas Kesehatan Badung, dr. I Gede Putra Suteja tak menampik kasus DBD di Kabupaten Badung meningkat drastis bahkan pihaknya mengatakan sepanjang tahun 2019 ada sebanyak 971 kasus di Badung.

"Iya kalau dibandingkan dengan tahun sebelumnya memang mengalami peningkatan. Tahun sebelumnya atau tahun 2018 hanya terjadi 326 kasus DBD," ujarnya Selasa (17/12/2019).

Berdasar data dari Dinas Kesehatan Badung grafik kasus DBD di Badung per Januari – 9 Desember tahun 2019 terjadi 971 kasus.

Dengan rincian pada bulan Januari terjadi 94 kasus DBD, bulan Februari ada 116 kasus, Maret ada 90 kasus, bulan April 128 kasus, Mei ada 207 kasus, Juni ada 129 kasus, Juli ada 79 kasus, Agustus ada 31 kasus, September ada 26 kasus, Oktober 19 kasus, November ada 44 kasus, per tanggal 9 Desember ada 8 kasus.

Namun dari semua kasus tersebut ada dua orang yang meninggal dunia.

Pertama warga asal Jumpayah Mengwitani yang meninggal dunia pada tanggal 15 Januari 2019 di RSD Mangusada.

Kedua, bocah yang tinggal di jalan Pratama , Bualu Indah, Benoa meninggal pada tanggal 23 Januari 2019 di RSUP Sanglah.

"Iya semuanya totalnya 971 kasus dengan 2 orang meninggal dunia," tegasnya.

Pihaknya menyadari jika dibanding tahun sebelumnya, malah di tahun 2019 ini mengalami kenaikan drastis untuk kasus DBD.

Data DBD tahun 2017 ada 941 kasus dengan satu orang meninggal dunia. Namun Kasus DBD tahun 2018 menurun drastis yakni hanya terjadi 326 kasus DBD dengan satu orang meninggal dunia.

Berbanding terbalik dari data 2019 yang sangat meningkat drastis.

Di tahun 2019 ini kasus DBD kembali naik mencapai 971 kasus.

"Sangat drastis peningkatannya jumlah kasus DBD ditahun 2019," tambahnya

Menurutnya, kenaikan itu terjadi karena beberapa faktor yakni cuaca, lingkungan dan prilaku.

Faktor cuaca misalnya curah hujan di awal 2019 tinggi, sedangkan pada awal 2018 curah hujannya rendah.

Sedangkan, dari faktor lingkungan, karena hujan tentu ada banyak jentik nyamuk. Faktor perilaku, karena tidak ada pemberantasan sarang nyamuk jadi jentik berubah menjadi nyamuk.

"Jadi ada tiga faktor yakni faktor cuaca, lingkungan, dan perilaku yang mengakibatkan kenaikan kasus DBD ini. Meski sudah ada jumantik tapi masyarakat juga harus menjaga lingkungannya sendiri," jelasnya.

Ia mengimbau masyarakat agar tetap memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar.

Terutama tetap memiliki perilaku hidup bersih dan sehat.

"Sekarang kan sudah mulai musim hujan, jadi kami imbau masyarakat agar tetap hidup sehat dan bersih," tuturnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved