Breaking News:

Berburu Tiket Bali United

Suporter Bali United Kritik Sistem Penjualan Tiket, 'Sudah Tahu Akan Ramai Kenapa Dijual di Kafe'

Akibat antrean membeludak dan tak terkendali ini, pintu kaca kafe pecah dan meja kasir ambruk.

Penulis: eurazmy | Editor: Huda Miftachul Huda
Tribun Bali/Eurazmy
Bali United Cafe ditutup pasca antrean tiket yang berujung ricuh, Kamis (19/12/2019). Tampak sejumlah puing pecahan kaca dan sandal suporter di depan cafe. 

''Saya gak tahu ya pertimbangannya kayak gimana. Udah tahu bakal rame kenapa dah dijual di cafe. Dapet info jumlah tiketnya juga terbatas,'' ujarnya.

Seperti diketahui, berbeda seperti biasanya, tiket kali ini hanya dijual secara offline dengan syarat membeli menu di BU Cafe senilai Rp 20 ribu per struk lalu baru diperbolehkan membeli 2 tiket.

Sementara, pihak panitia tidak mengumumkan secara resmi berapa tiket yang dijual secara offline hari ini.

''Menurut saya wajar ya kalo membeludak. Momen juara siapa juga yang gak mau ikut berpartisipasi. Apalagi, BU ini klub baru dan langsung juara. Kan jadi kebanggaan bersama warga Bali dong,'' tuturnya.

Made Andhika Resmi Diikat Bali United Sampai 2022, Sang Ayah Bakal Bawa ke Tempat Bersejarah Ini

Made Andhika Diburu Arema FC, Bali United Langsung Ikat Kontrak Hingga 2022

''Nah tau membeludak gitu kan harusnya dijual di loket aja ya, menghindari kericuhan kayak gini,'' kata mahasiswa Universitas Saraswati ini. 

Bedakan laga penting dan tidak

Hal senada dikatakan Surya, yang menyarankan agar ke depan, panitia tiket sudah harus mulai berbenah.

Panitia musti membedakan mana laga penting yang berpotensi antusias tinggi dan mana laga sepi.

''Jadi kan sampe kejadian kayak gini. Kejadian kayak gini juga bukan pertama kali. Harusnya manajemen udah sadar,'' katanya.

Ia juga menyarankan ke depan juga ada semacam dibuatkan kartu member semacam kartu e-tol.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved