Breaking News:

Hari Natal dan Tahun Baru 2020

Tradisi Ngejot di Bali Jelang Hari Natal, Umat Kristen di Denpasar Bagikan Makanan ke Tetangga

Ngejot adalah tradisi Bali memberikan makanan kepada tetangga atau kerabat dekat sebagai wujud rasa persaudaraan.

Tribun Bali / I Made Prasetia Aryawan
Sejumlah warga umat Hindu saat melaksanakan ngejot di salah satu rumah warga umat Kristen di Banjar Piling Kanginan, Desa Mengesta, Penebel, Tabanan, Bali, Selasa (28/5/2018). 

 
TRIBUN-BALI.COM – Bali memiliki banyak tradisi yang bertujuan untuk mengharmoniskan hubungan antara manusia (pawongan), alam (palemahan), dan Sang Pencipta (parahyangan).

Orang Bali mengenal hubungan antar ketiganya itu dengan konsep Tri Hita Karana.

Dalam konteks pawongan atau hubungan antara manusia dengan manusia, orang Bali mengenal istilah menyama braya yang berarti menjunjung rasa persaudaraan.

Konsep persaudaraan ini berlaku untuk semua orang, tanpa terkecuali.

Salah-satu tradisi yang mencerminkan konsep menyama braya adalah tradisi ngejot.

Ngejot adalah tradisi Bali memberikan makanan kepada tetangga atau kerabat dekat sebagai wujud rasa persaudaraan.

Biasanya, tradisi ngejot dilaksanakan saat seseorang memiliki hajatan adat atau ketika hari raya tiba.

Tradisi ngejot tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Hindu Bali.

Masyarakat Banjar Piling Kanginan, Desa Mengesta, Kecamatan Penebel, Tabanan memiliki tradisi unik.
Masyarakat Banjar Piling Kanginan, Desa Mengesta, Kecamatan Penebel, Tabanan memiliki tradisi unik. (Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan)

Menjelang Hari Natal 2019 seperti sekarang, umat Kristen di Bali juga melaksanakan tradisi ngejot.

Halaman
12
Penulis: Widyartha Suryawan
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved