Kebakaran di Tabanan

2 Bule Belanda yang Tewas Terbakar di Tabanan Ada 1 yang Sebelumnya Stroke

Menurut laporan dari kepolisian salah satu WNA tersebut bernama Christianus dalam kondisi stroke

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Huda Miftachul Huda
SHUTTERSTOCK via KOMPAS.com
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Kepolisian kini sedang menangani kasus meninggalnya dua orang asal Belanda yang tewas dalam kebakakaran di sebuah rumah yang beralamat di Desa Pupuan Sawah, Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan.

Bule bernama Hendrikus Johannes Deijkers (78) dan Christianus Antonius Huijbregts (78) itu meninggal karena mengalami luka bakar stadium 4 atau semua tubuhnya hangus terbakar.

Hal itu diketahui dari identifikasi dari Tim Forensik Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar.

Kepala Bagian Staf Medis Fungsional (SMF) Forensik RSUP Sanglah Ida Bagus Putu Alit mengatakan, pihaknya mendapatkan laporan dari kepolisian soal kondisi salahsatu bule yang meninggal ini.

2 Bule Asal Belanda Tewas Terbakar di Tabanan, RSUP Sanglah: Tak Bisa Dikenali Sudah Jadi Arang

Sadis, Ni Ketut Raning Dicekik Lalu Dihujani dengan Tusukan di Perut

Ular Masuk Kafe di Jembrana, Karyawan dan Pengunjung Berlarian Keluar dari Bar

"Menurut laporan dari kepolisian salah satu WNA tersebut bernama Christianus dalam kondisi stroke dan sempat menjalani perawatan dari Rumah Sakit di Tabanan," ucapnya, Kamis (26/12/2019).

Sebelumnya melalui keterangan tertulis, Kasat Reskrim Polres Tabanan AKP I Made Pramasetia mengatakan, bahwa telah terjadi kebakaran tempat tinggal dengan dua korban asing asal Belanda.

Kebakaran rumah tersebut didengar oleh Ni Ketut Arini seperti suara guyuran air di atas seng, dan setelah dilihat ternyata muncul asap di dalam rumahnya.

"Setelah keluar rumah dilihatnya ada api yang melambung tinggi berasal dari rumah kakaknya yang ditempati kedua korban ini," kata dia.

Setelah melihat kobaran api, Ni Ketut Arini langsung meminta bantuan kepada warga masyarakat untuk mengecek kebakaran di TKP.

Namun apa daya, karena api sudah membesar, masyarakat tidak mampu memadamkan dengan peralatan tradisional.

Pramasetia menuturkan, penyebab kebakaran diduga karena api muncul akibat kompor listrik yang dipakai memasak sehari- hari oleh korban Hendrikus.

Hasil Autopsi

Kepala Bagian Staf Medis Fungsional (SMF) Forensik RSUP Sanglah Ida Bagus Putu Alit mengatakan jenazah kedua bule tersebut diterima sekitar pukul 07.00 Wita dan sulit dikenali karena mengalami luka bakar stadium 4 atau sudah dalam bentuk karbonisasi.

"Karena sudah tidak dikenali, jadi kita tidak bisa mengetahui siapa identitasnya, namun setelah diidentifikasi dapat ditentukan bahwa kedua korban itu adalah laki-laki," kata dia.

Alit menjelaskan, identifikasi dilakukan berdasarkan dari sisa testis kedua korban yang masih ada meskipun dalam kondisi terbakar.

Penonjolan tulang orbita juga sebagai tanda bahwa kedua jenazah tersebut menunjukkan laki-laki. 

Selain itu, untuk menentukan rasnya, pihaknya mencocokkan dengan cara "cephalic index".

Pemeriksaan juga dilakukan pada sampel gigi kedua korban untuk diidentifikasi.

"Nah untuk sifat induknya menunjukkan bahwa kedua korban itu orang Eropa Amerika, ditambah lagi sebagian besar tubuhnya itu sudah menjadi arang dengan luka bakar derajat 4," katanya. 

Diakui bahwa Tim Forensik RSUP Sanglah Denpasar juga telah mengumpulkan data ante mortem gigi dan antropometri. 

Alit menegaskan, rencananya pada Sabtu mendatang akan dilakukan rekonsiliasi dengan penyidik dan keluarga korban. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved