Ngopi Santai
The Power of Air Mata: Menangis Itu Bisa Menyembuhkan
Bahkan dalam kehidupan saya sendiri, saya berterima kasih ketika saya bisa menangis
Penulis: Sunarko | Editor: Huda Miftachul Huda
“Laki-laki kok nangis, malu ah. Laki-laki itu harus tegar, gak boleh nangis.”
Demikian ungkapan yang masih cukup sering kita dengar di masyarakat, yang secara jelas menganggap bahwa tangisan (apalagi oleh kaum lelaki) adalah sebuah kelemahan, bahkan hal tercela.
Ini kejadian nyata. Suatu ketika, ada seorang anak kecil pulang ke rumah dengan menangis sehabis bermain kelereng, dan dia justru dihajar oleh ayahnya.
“Pulang bermain kok pakai menangis, kamu ini anak lelaki macam apa!” ujar ayahnya sembari menyabetkan kain pel ke paha anaknya tanpa bertanya dulu mengapa si anak menangis.
Karena konsepsi umum yang negatif tentang menangis tersebut, maka daripada menangis, tidak sedikit dari kaum lelaki yang akhirnya menekan keras (suppress) emosi atau perasaan sedihnya dengan berusaha tampil tegar di tengah perasaan duka-nestapa yang dialaminya.
Akibatnya, menangis yang normalnya merupakan ekspresi dari –misalnya-- rasa sedih akibat kehilangan orang dicintai atau ungkapan keterharuan, menjadi dipaksa dimaknai sebagai kelemahan atau ketercelaan.
Pemaknaan “menangis adalah kelemahan” itu kemudian tersimpan dalam memori di pikiran bawah sadar, yang apabila tidak diudar atau diretas, akan bisa mendorong ekspresi (kesedihan) dalam bentuk lain, yang justru tidak sehat bahkan destruktif.
Salah-satunya adalah munculnya dendam kesumat.
Karena itu, psikiater ternama Amerika, Judith Orloff, yang menulis buku The Empath`s Survival Guide: Life Strategies for Sensitive People (2017) mengingatkan untuk tidak menganggap enteng menangis, justru karena segudang manfaatnya bagi kesehatan baik psikis maupun fisik.
Dalam artikelnya The Healing Power of Tears, Orloff mengatakan bahwa selama lebih 20 tahun sebagai psikiater, ia menyaksikan berulangkali bagaimana kekuatan menyembuhkan dari air mata.
Air mata adalah katup pelepasan tubuh bagi kondisi stres, kesedihan, penderitaan, kecemasan dan frustrasi.
Kita pun bisa menangis karena kegembiraan, misalnya ketika kelahiran anak kita atau menangis lega dan terharu tatkala sebuah kesulitan berhasil dilalui.
“Bahkan dalam kehidupan saya sendiri, saya berterima kasih ketika saya bisa menangis. Rasanya seperti membersihkan, sebuah cara untuk menguras emosi-emosi terpendam sehingga emosi itu tidak merasuk ke tubuh saya menjadi simtom stres seperti kelelahan (fatigue) atau nyeri,” tulis Judith Orloff.
“Karena itu, untuk tetap sehat dan melepas stres, saya mendorong pasien-pasien saya untuk menangis. Bagi laki-laki dan perempuan, air mata itu sinyal keberanian, kekuatan dan otentisitas,” demikian Judith Orloff yang juga menulis buku laris Emotional Freedom.
Dalam buku-bukunya, Orloff membahas tentang sejumlah manfaat menangis bagi kesehatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-menangis_20180420_121523.jpg)