Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serangga Penyerbuk di Ekosistem Indonesia Terancam Akibat Krisis Iklim

Serangga Penyerbuk di Ekosistem Indonesia Terancam Akibat Krisis Iklim. Krisis iklim telah mempengaruhi perilaku makan, migrasi serangga penyerbuk

Gambar oleh vizyweb dari Pixabay
Foto ilustrasi lebah 

TRIBUN-BALI.COM - Perubahan iklim yang mendadak terkadang terjadi di Indonesia.

Seperti kemarau panjang yang di hadapi beberapa wilayah Indonesia pada 2019 lalu.

Krisis iklim yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir dianggap mengancam keanekaragaman hayati sampe titik terkecil, termasuk serangga penyerbuk.

Dilansir DW  (11/12/2017) ada beberapa serangga penyerbuk yang terancam.

Musim Hujan, Harga Cabai Mulai Meroket di Klungkung

Ricky Fajrin Harap Bali United Bisa Mengharumkan Nama Indonesia Di Kancah Internasional

Peneliti Unud Berupaya Kembalikan Kejayaan Jeruk Keprok Tejakula Buleleng

Misalnya saja tawon besar di Amerika Utara dan Eropa yang gampang kepanasandan mati gara-gara tubuhnya yang berbulu dan relatif lebih besar ketimbang lebah serta warna gelapnya.

Kemudian ada lebah madu dan kupu-kupu yang juga menderita dalam perubahan iklim ini.

Ancaman ini menjadi kekhawatiran besar yang perlu dihadapai dan disadari bersama.

Di Indonesia, dampak krisis iklim ini terlihat dari beberapa bencana alam yang terus meningkat dengan akibat yang semakin parah.

Profesor Riset Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Rosichon Ubaidillah mengatakan, krisis iklim juga berdampak pada rusaknya habitat keanekaragaman hayati Indonesia.

"Berbagai penelitian menunjukkan krisis iklim berdampak pada meningkatnya fenomena pergeseran biogeografis, ketidakcocokan tanaman berbunga dan penyerbuknya, dan mungkin meningkat hingga tingkat kepunahan,” kata Rosichon.

Ia menjelaskan, dampak dari perubahan iklim telah menyentuh bumi hingga titik terkecil, seperti serangga penyerbuk yang berperan penting dalam regenerasi dan reproduksi tanaman dalam ekosistem hutan maupun sistem pertanian.

"Sekitar 80 sampai 90 persen tanaman berbunga bergantung pada penyerbukan alami oleh serangga untuk beregenerasi dan memproduksi buah atau makanan yang berguna sebagai bahan makanan untuk hewan lain,” ujarnya.

Krisis iklim telah mempengaruhi perilaku makan, kawin dan migrasi serangga penyerbuk. Ironisnya, krisis iklim berdampak bukan hanya pada serangga penyerbuk itu saja, melainkan juga pada proses penyerbukan itu sendiri.

"Perubahan temperatur bumi telah mempengaruhi lama waktu penyerbukan, berbunga hingga produksi buah sehingga akan mengganggu konservasi agroekosistem dan eksosistem liar," tuturnya.

Rosichon memberikan salah satu contoh serangga penyerbuk yang terpengaruh krisis iklim yaitu tawon Ara.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved