Kisah Buruh Tani Ikut Jalan Kaki Kirab Keraton Agung Sejagat Dengan Seragam Seharga Rp 2 Juta
Kasnan ikut jalan berbaris sambil mengangkat panji-panji bertuliskan aksara jawa yang tidak dimengertinya.
Namun, ia belum sepenuhnya yakin akan terlibat di dalam komunitas ini.
Ia berharap menemukan hal positif setelah membuka jaringan pertemanan.
Dalam berbagai pertemuan itu, kenang Kasnan, lebih banyak membicarakan soal kemanusiaan dan sosial kemasyarakatan, diawali mendata warga yang layak mendapat uluran bantuan.
Kasnan mengaku tergugah oleh rencana kegiatan kemanusian dalam komunitas ini. Ia pun akhirnya mau bergabung.
"Tapi tidak serta merta ikut. Saya bukan orang yang cepat langsung log in gitu saja. Saya harus berpikir panjang. Akhirnya ikut, siapa tahu bagus," kata Kasnan.
Saat Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat berurusan dengan polisi.
Kasnan menyadari ada yang salah dalam komunitas itu.
Hanya saja, dia tidak mau berkomentar banyak. Kasnan merasa bersyukur semua orang tetap baik dan menghargai dirinya.
Penghargaan terbesar tetap diberikan istri beserta anak-anaknya.
"Ini jadi ujian bagi keluarga kami. Saya menerima semua masukan dari istri dan anak-anak. Kalau keluarga tidak ada yang piye piye, (hati) saya jadi tenang.Kalau keruh ya malah tidak enak," katanya. Tetangga juga memperlakukan apa adanya. Tidak ada tudingan miring bagi dirinya.
"Saya memilih diam saja. Kalau pun ada yang mem-bully, saya juga tetap diam saja. Mem-bully berarti perhatian. Saya tidak benci. Biar lah. Saya ini orang santai. Saya berdoa saja," katanya.
Kini, Kasnan hanya bisa memantau perkembangan kasus Keraton Agung Sejagat. Dia juga tidak mau mengingat lebih jauh masa-masanya tergabung dalam kerajaan fiktif itu.
"Saya sudah putuskan semalam untuk melupakan," katanya.(*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cerita Buruh Tani yang Rela Keluarkan Rp 2 Juta untuk Ikut Kirab Keraton Agung Sejagat"