WIKI BALI

WIKI BALI- Ritual Suku Melayu Loloan Sebelum Bangun Rumah Panggung, Ada Petaka jika Tak Dilakukan

Masyarakat Loloan di Jembrana, Bali juga memiliki ritual sebelum membangun atau membongkar rumah panggung, rumah adat suku Melayu Loloan.

WIKI BALI- Ritual Suku Melayu Loloan Sebelum Bangun Rumah Panggung, Ada Petaka jika Tak Dilakukan
TRIBUN BALI/NOVIANA WINDRI
Foto: Kepala Lingkungan Loloan Timur, Muztahidin saat ditemu di kediamannya di Loloan Timur, Jembrana, Rabu (15/1/2020) malam 

Menurut kepercayaan masyarakat Loloan Negara, Bali ada satu ritual yang harus dilakukan saat akan membangun atau membongkar rumah panggung, jika tidak, ada saja petaka yang akan terjadi.

Laporan Wartawan Tribun Bali, Noviana Windri Rahmawati

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA –  Setiap masyarakat yang bermukin di suatu daerah memiliki ritual tersendiri untuk menghormati leluhur atau alam sekitar.

Dalam membangun rumah pun ada ritual yang harus dilakukan yang jika tidak dilaksanakan dipercaya akan membawa petaka bagi masyarakat atau orang yang bersangkutan.

Seperti selametan atau selamatan adalah tradisi yang paling sering dilakukan oleh masyarakat Jawa.

Atau upacara yadnya yang dilakukan dalam membangun rumah adat Bali.

Masyarakat Loloan di Jembrana, Bali juga memiliki ritual sebelum membangun atau membongkar rumah panggung, rumah adat suku Melayu Loloan.

Polisi Sudah Kantongi Petunjuk Tentang Pencurian di Pura Dalem Desa Adat Pinge dan SDN 1 Baru

Jenazah Ade Irawan Dimakamkan Hari Ini, Satu Liang Lahat dengan Suaminya

Ramalan Zodiak Minggu 19 Januari 2020, Taurus Bijak Mengatur Uang, Libra Jangan Terbawa Emosi

Kepala Lingkungan Loloan Timur, Muztahidin menjelaskan bahwa di Kampung Loloan, Jembrana juga masih melaksanakan ritual-ritual termasuk ritual sebelum membangun atau hendak membongkar rumah panggung.

 “Kalau zaman sekarang mau bongkar rumah panggung ya tinggal bongkar saja. Tidak perlu memakai lulur dan segala macam. Tetapi kalau tidak pakai, entah kenapa ada saja yang celaka. Entah sugesti atau memang ada ritual karena rumah panggung ini sakral atau bagaimana,” jelasnya.

Ritual yang dimaksud yaitu dengan memakai boreh atau sejenis lulur dari tepung beras dan kunyit yang kemudian dioleskan ke bagaian tubuh yaitu wajah, tangan dan kaki.

Eks Pemain Manchester United Ashley Young Resmi Gabung Inter Milan

Foto dan Unggah ke Medsos Dapat Tingkatkan Kebahagiaan, Berikut Tips Ambil Foto Gunakan Smartphone

Denpasar Beri Dana Ekonomi Kreatif Kepada Masing-masing STT Sebesar Rp 3.5 Juta

“Setiap mau membangun atau membongkar rumah harus membaca bismillah terlebih dahulu dan memakai boreh yang dilulurkan ke salah satu bagian tubuh misalnya wajah atau tangan. Itu agar tidak celaka saja. Itu sugesti dan ritual kami di sini. Ritual kecil ini yang masih dilaksanakan sampai sekarang,” sambungnya.

Jika tidak dilaksanakan ritual tersebut, dipercaya akan menimbulkan petaka untuk orang-orang yang membangun atau membongkar rumah panggung.

WIKI BALI - Filosofi Rumah Panggung Suku Melayu Loloan di Jembrana

 

“Ada saja pasti kejadian kalau tidak melaksanakan ritual. Saya dulu pernah ikut bongkar, ada salah satu warga yang tidak memakai boreh. Ya lengannya robek itu karena jatuh dari atas rumah. Kembali lagi ke individu mau percaya atau tidak. Tetapi kami yang di Loloan masih menjalankan ritual-ritual itu,”  pungkasnya. (*)

Penulis: Noviana Windri
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved