Makna Dan Pengertian Hari Raya Siwaratri, Malam Hening Peleburan Dosa
Malam Siwaratri itu adalah malam untuk menegaskan kembali kehadiran Sang Hyang Siwa dalam diri kita sebagai Siwa Atman.
Penulis: I Putu Darmendra | Editor: Eviera Paramita Sandi
Tapi bagaimana membangun kesadaran dalam diri.
Begadang adalah jagra, artinya tangiang, waspada, eling, mulat sarira.
Itu saripati dari perayaan Siwa Ratri.
Inikah Malam Penebusan Dosa?
Siwaratri seperti yang yang sering kita jumpai sebelum-sebelumnya, bukanlah malam yang penuh keheningan, melainkan kebisingan.
Ironis memang, malam yang suci ini justru kerap dijadikan kebut-kebutan di jalan raya hingga pamer pacar di pura.
Sesungguhnya hal tersebut bukanlah suatu wujud perayaan Hari Suci Siwaratri, melain Bhutaratri.
Ketika kita berbicara mengenai Siwaratri, kita harus mengetahui konsepnya.
Dalam aspek ajaran Siwa Sidhanta, Siwa merupakan Tuhan yang memiliki tiga wujud, yakni Parama Siwa, Sadha Siwa dan Siwa Atman.
Sementara dalam ajaran Hindu secara umum, Siwa adalah dewa yang bertugas sebagai pemralina atau pelebur alam semesta beserta isinya.
Sementara Ratri artinya malam atau gelap.
Malam atau kegelapan yang dimaksudkan di sini ialah, ketidaktahuan.
Di sinilah Siwa hadir sebagai penunjuk jalan, dari jalan gelap menuju jalan terang atau kebodohan menuju kecerdasan.
Dewa Siwa-lah sebagai agen perubahan itu.
Dewa Siwa sebagai sebuah kekuatan yang menuntun manusia membangun kualitas menjadi yang lebih baik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sembahyang-siwaratri_20170127_093008.jpg)