QRIS BPD Bali Telah Terpasang Pada 44 Pedagang di Pasar Phula Kerti
Tercatat sebanyak 44 pedagang di Pasar Phula Kerti, telah dipasangkan QRIS dari BPD Bali.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tercatat sebanyak 44 pedagang di Pasar Phula Kerti, telah dipasangkan QRIS dari BPD Bali.
Sehingga total pedagang yang telah menggunakan QRIS, mencapai 30 persen dari 150 pedagang di dalam pasar. Bank Indonesia pun berharap jumlah pedagang yang menggunakan QRIS akan terus bertambah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho, menyampaikan apresiasi atas Peresmian Pasar Phula Kerti yang sekaligus dirangkai dengan Launching Digitalisasi Pasar dengan QRIS (Quick Response Code Indonesia Standard).
Bank Indonesia juga menyampaikan apresiasi kepada Bank BPD Bali yang telah menghadirkan layanan QRIS di pasar ini.
• Tenaga Honorer Punya Waktu Hingga 2023 untuk Jadi PNS
• Dewan Dorong OPD Tindak Lanjuti Imbal Jasa Lingkungan, Sarankan Agar Eksekutif Segera Bentuk Pokja
• Irfan Bachdim Akan Hengkang dari Bali United, Bukan ke Persib Bandung Tapi Lebih Dekat ke Klub Ini
"Sejalan dengan visi pemerintah Kota Denpasar untuk mewujudkan Denpasar, menjadi Kota yang Cerdas (Smart City) maka Bank Indonesia mendukung pemanfaatan teknologi di setiap bidang dan salah satunya adalah menghadirkan QRIS sebagai sarana transaksi digital di lingkungan pasar tradisional," katanya di Denpasar, Bali, Senin (27/1/2020).
Pasar Phula Kerti merupakan pasar rakyat pertama di Kota Denpasar dan kedua di Provinsi Bali yang menerima pembayaran dengan QRIS ini. Sebelumnya adalah pasar ikan Kedonganan di kabupaten Badung, yang bekerjasama dengan bank BRI dalam mengimplementasikan QRIS.
"Selain itu dapat kami informasikan bahwa implementasi penggunaan sarana QRIS telah dikenalkan di Bali mulai dari acara Rakornas Transaksi Non Tunai Pemda seluruh Indonesia, di Sanur pada tanggal 7 November 2019 dan terakhir dilanjutkan pada event Denpasar Festival tanggal 28 sd 31 Desember 2019," imbuhnya.
Pasar tradisional menjadi salah satu fokus BI untuk implementasi QRIS, mengingat pasar merupakan representasi ekonomi kerakyatan dimana pedagang dan pembeli dengan skala ekonomi kecil dapat bertemu di pasar tradisional.
Dengan implementasi QRIS di pasar tradisional diharapkan selain masyarakat kecil dapat menikmati kemajuan teknologi juga dapat mempercepat perputaran uang di usaha mikro ,kecil dan menengah.
Dan pada akhirnya diharapkan sarana pembayaran QRIS ini dapat meningkatkan omset penjualan, sehingga kesejahteraan pedagang semakin meningkat.
Teknologi QRIS, kata dia, menjadi salah satu sarana pembayaran karena QRIS memiliki beberapa kelebihan atau yang disebut dengan QRIS Unggul.
Yaitu, Universal, artinya QRIS merupakan standar internasional sehingga ke depan dapat menerima transaksi domestik dan luar negeri.
Gampang, artinya hanya melalui sarana handphone dapat bertransaksi dengan mudah.Pedagang tidak perlu kesulitan menyediakan uang pengembalian.
Untung, artinya satu QR code dapat menerima semua aplikasi dari berbagai penerbit.
Saat ini QR code berasal dari BPD Bali namun dapat menerima transaksi dari OVO, Gopay, Mandiri dan lainnya.
Serta langsung, artinya transaksi dapat secara cepat dilakukan dan dana dapat diterima seketika.
Sampai posisi 20 Januari 2020, tercatat jumlah pedagang yang telah menggunakan QRIS sebanyak 2.251.136 pedagang. Diantaranya sebanyak 44.696 pedagang tercatat di Provinsi Bali atau sekitar 2 persen dari nasional.
Dari 44.696 pedagang tersebut, tercatat sebanyak 23.395 pedagang atau sekitar 52 persen berada di Kota Denpasar.
"Selanjutnya saya berharap, penggunaan QRIS tidak hanya untuk transaksi penjualan, ke depannya dapat diperluas penggunaan untuk retribusi pasar dan pengelolaan parkir," katanya.
Pada saat ini, bersamaan dengan acara peresmian pasar Phula Kerti, Bank Indonesia juga hadir dalam rangka memenuhi kebutuhan uang tunai di masyarakat.
Saat ini masyarakat diharapkan memperlakukan uang rupiah dengan baik, yakni dengan 5 cara, diantaranya Jangan Dicoret, Jangan Dilipat, Jangan Distepless, Jangan Dibasahi dan Jangan Diremas.
"Dengan memperlakukan uang rupiah yang baik maka uang yang beredar di wilayah Bali dalam kondisi yang baik atau tidak lusuh," imbuhnya.
Selain di pasar tradisional, Bank Indonesia juga mendorong perluasan penggunaan QRIS di beberapa tempat.
Seperti perguruan tinggi, mengingat digitalisasi banyak digunakan oleh kaum milenial dan untuk mendorong pertumbuhan start up atau inovasi produk dengan menggunakan QRIS.
Industri atau yang berkaitan dengan pariwisata, mengingat Provinsi Bali menjadi destinasi wisata utama dari wisatawan domestik maupun internasional.
"Harapannya dengan penggunaan QRIS di pariwisata, akan mampu meningkatkan citra pariwisata Bali dan juga peningkatan pendapatan dari sektor Pariwisata," imbuhnya.
Tempat Ibadah. Guna meningkatkan kepedulian dan pengelolaan dana sosial secara lebih mudah dan transparan.
Kemudian UMKM, agar mendorong peningkatan penjualan melalui sarana pembayaran secara digital / QRIS.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/launching-penggunaan-qris-di-denfest-2019.jpg)