Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Bedah Buku Nyujuh Langit Duur Bukit, dari Kehidupan Keluarga, Tirta Amerta Hingga Teologi Hindu

Bedah Buku Nyujuh Langit Duur Bukit, dari Kehidupan Keluarga, Tirta Amerta,Hingga Teologi Hindu

Tayang:
TRIBUN BALI/ I PUTU SUPARTIKA
Bedah Buku Nyujuh Langit Duur Bukit 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA- Sabtu (2/2/2020) malam bertempat di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Jalan Pantai Indah, Buleleng, Bali digelar acara bedah buku kumpulan cerita pendek (cerpen) berbahasa Bali berjudul Nyujuh Langit Duur Bukit yang merupakan kumpulan cerpen dari majalah Suara Saking Bali yang terbit selama hampir 3 tahun.

Buku ini merupakan antologi dari 22 penulis sastra Bali modern yang juga memuat 22 karya cerpen lintas generasi dari generasi kelahiran 1990-an hingga kelahiran 1945.

Menghadirkan tiga pembedah yakni I Gusti Bagus Weda Sanjaya, guru bahasa Bali SMAN Bali Mandara, Nyoman Suka Ardiyasa, dosen di STAH Mpu Kuturan Singaraja dan Nyoman Devi Ary Cahyani mahasiswi STAH Mpu Kuturan menggunakan teknik membedah naskah dengan sudut pandangnya masing-masing.

Nyoman Devi Ary Cahyani membedah buku ini dari sudut pandang nilai-nilai kehidupan dalam kehidupan keluarga.

Apakah Kamu Termasuk Orang yang Sulit Menabung? Cek Tanda Ini

Rangkaian Peristiwa Evakuasi WNI dari China, Langsung Dikarantina di Natuna

Soal Sayembara yang Digelar BKSDA Sulteng untuk Buaya yang Terjerat Ban, Ini Tanggapan Ahli

"Walaupun cerpen dalam buku ini ditulis  pengarang yang tentunya memiliki latar belakang  yang berbeda, namun terdapat cerpen-cerpen yang memiliki persamaan, dimana dalam ceritanya mengangkat tentang keadaan sebuah keluarga," kata Devi.

Ia menemukan ada tiga cerpen yang mengangkat kehidupan keluarga yakni Nyuluh Langit  Duur Bukit yang juga menjadi judul kumpulan ini karya I Gede Agus Mahardika, Sayang karya I Komang Alit Juliartha  dan cerpen yang berjudul Ulian Jengah Lan Tresna karya I Nyoman Buda Arimbawa.

"Seperti dalam cerpen yang berjudul Nyujuh Langit Duur Bukit, cerita yang diangkat yakni keadaan sebuah keluarga yang notabene merupakan keluarga sederhana. Hal tersebut dikarenakan semua tanah milik mereka habis terjual dan mata pencaharian kepala keluarga yang seketika hilang karena penyakit yang dideritanya. Namun, hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi Si Anak untuk tetap bersyukur dan terus berusaha untuk mengangkat derajat keluarganya," katanya.

Pembedah kedua, I Gusti Bagus Weda Sanjaya membedah buku ini dari sudut pandang seorang pendidik.

Ia menyebutkan buku ini ibarat tirta amerta yang memberi kesempatan para pengarang muda kasusastraan Bali termasuk yang senior untuk dapat hidup abadi melalui tulisan.

Dari buku ini, seorang pembaca bisa memahami penggunaan Sor Singgih Basa Bali dalam konteks kehidupan.

"Cerpen Oshin, Gending I Angsa Putih lan I Pitik Bengil misalnya bisa menjadi refrensi bagaimana pergantian anggah-ungguhing basa dalam percakapan sesuai dengan konteks siapa yang berbicara sesuai wangsa," katanya.

Hal yang sama juga bisa dilihat dalam cerpen Kabyahparan yang menjadi gambaran sor singgih basa Bali yang mengalami 'campur kode' dengan bahasa Indonesia dalam dialog tokoh Dewi Lestari dengan keluarga yang berkasta 'soroh pradewa'.

Selain itu, menurut Weda Sanjaya, dari buku ini pembaca juga mendapat kosa kata bahasa Bali yang nyaris tak digunakan lagi dalam kehidupan bermasyarakat seperti kata besil, blasak, hingga istilah apakpakan base.

Sementara itu, Suka Ardiyasa membedah dari sudut teologi Hindu sesuai dengan keilmuannya.

Ia melihat beberapa cerpen dalam kumpulan ini mengandung aspek teologi Hindu seperti cerpen Nyujuh Langit Duur Bukit karya Agus Mahardika.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved