Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Wabah Babi Mati Mendadak Tak Ada Solusi, Peternak Menjerit, Pemerintah Tak Respon

Wabah Babi Mati Mendadak Tak Ada Solusi, Peternak Mengharapkan Perhatian dari Pemerintah

TRIBUN BALI/ I PUTU SUPARTIKA
Foto ilustrasi Babi Warga di Kandang 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Wabah babi mati secara mendadak semakin hari ternyata semakin meluas.

Di Tabanan, Bali khususnya di Kecamatan Marga wabah tersebut terjadi secara masif.

Terkait hal tersebut, peternak mengharapkan perhatian dari pemerintah.

Namun, pihak pemerintah hingga saat ini masih belum bergerak dan untuk pengadaan desinfektan yang rencananya disebar ke seluruh peternak tak kunjung terealisasi.

Simpang Siur Jenis Kelamin Lucinta Luna Dipertanyakan, Ini Jawaban Polisi Terkait Penempatan Selnya

Satpol PP Klungkung Intai Gepeng Hingga ke Tempat Tidur, Amankan 8 Gepeng Anak-anak Beserta Ibunya

Terkini Soal Kasus Cok Putri Swandewi DPO Polda Bali, BKD Bangli Belum Tahu Status Kepegawaiannya

Menurut informasi yang diperoleh, wabah babi mati mendadak mengakibatkan puluhan bahkan ratusan peternak merugi hingga ratusan juta.

Bahkan jumlah babi yang mati diperkirakan sudah bertambah hingga 50 persen dari data awal Dinas Pertanian sebanyak 537 ekor babi mati secara mendadak.

Dan hingga saat ini Dinas Pertanian Bidang Peternakan mengaku masih belum menerima laporan terkait babi mati mendadak.

"Saat ini peternak sudah enggan melaporkan kejadian babi mati mendadak karena belum ada respon sama sekali dari pemerintah," ujar seorang Peternak asal Kecamatan Marga yang namanya enggan disebutkan.

Dia menilai, pemerintah seharusnya sudah bergerak ketika isu Virus ASF sudah ada di Indonesia.

Minimal melakukan sosialisasi untuk pembersihan kandang dan semprot dengan desinfektan.

Sehingga wabah babi mati mendadak ini bisa ditekan penyebarannya.

"Saya saja Rp 100 juta lebih merugi, belum lagi petani saya yang lain," ungkapnya.

Disinggung mengenai jumlah babi mati mendadak pasca pemerintah mengumumkan suspect ASF, dia enggan menyebutkan angka pastinya.

Intinya sudah lebih dari 300 ekor.

Dan kematian babi sudah enggan dilaporkan lagi.

"Intinya kami di peternak mengharapkan perhatian dari pemerintah. Minimal semangat untuk mengulang kembali beternak dan memberikan pemahaman tentang virus serta cara pencegahannya," harapnya.

Dikonfirmasi mengenai hal tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Peternakan Dinas Pertanian Tabanan, I Wayan Suamba mengatakan, hingga saat ini belum mendapat laporan dari masyarakat terkait wabah kematian babi mendadak di Tabanan.

Ia menyebutkan, angka pasti kematian babi masih di 537 ekor babi, sama seperti data yang diungkapkan pada Akhir Januari 2020 lalu.

"Kami belum mendapat laporan, jumlah masih yang kemarin itu 537 ekor babi mati mendadak di Tabanan," kata Suamba.

Disinggung mengenai pengadaan desinfektan untuk para peternak di Tabanan, Suamba mengaku sampai saat ini masih berjuang ke Pemkab Tabanan.

Dia berharap agar segera direalisasikan meskipun jumlahnya tak sesuai.

"Kami masih tetap berjuang agar pengadaan desinfektan bisa segera terealisasi," janjinya.(*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved