Hari Valentine

Hari Valentine, Toko Bunga di Denpasar Ramai Pembeli

Hari Kasih Sayang menjadi sumur penghasilan bagi penjaja bunga di Jalan Mayjen Sutoyo Denpasar

Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Adrian Amurwonegoro
Salah satu toko penjaja bunga di Jalan Mayjen Sutoyo, Dauh Puri Kangin, Denpasar Barat, Bali, Jumat (14/2/2020). Hari Valentine, Toko Bunga di Denpasar Ramai Pembeli 

Hari Valentine, Toko Bunga di Denpasar Ramai Pembeli

Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro.

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR –  Momentum Hari Valentine yang jatuh tanggal 14 Februari setiap tahunnya, atau lekat dikenal masyarakat sebagai Hari Kasih Sayang menjadi sumur penghasilan lebih bagi penjaja bunga di Jalan Mayjen Sutoyo, Dauh Puri Kangin, Denpasar Barat, Kota Denpasar, Bali.

Seperti The Colorist yang kebanjiran order hingga 102 paket bunga dalam sepekan terakhir.

Beragam inovasi karangan bunga dihadirkan, seperti hand bucket, flower box, dan dried flower menggunakan balon.

“Yang jelas Valentine ini ramai, menumpuk banget pesanan kita, hari ini puncak orang mengambil, kemarin puncak orang memesan,” ujar Calvin Lesmana sang pemilik toko, saat ditemui Tribun Bali di tokonya, Denpasar, Bali, Jumat (14/2/2020).

Calvin menjual bermacam promo paket bunga Valentine mulai dari harga Rp 65 ribu hingga Rp 1 jutaan.

Salah satu inovasi yang paling laku pembeli adalah dried flower, yakni bunga yang dikeringkan sehingga bisa tahan selama-lamanya.

Dried flower yang paling laris, kami stok 70 habis, kalau fresh flower kan tidak bertahan lama. Kemarin ada beri promo kalau booking sebelum 10 Februari ada diskon 10 persen, banyak yang booking itu,” katanya.

Meskipun ramai pembeli, namun ia merasakan adanya penurunan jumlah pembeli jika dibandingkan Valentine tahun sebelumnya.

“Mungkin bertepatan dengan hari raya lain seperti Imlek, Hari Raya Galungan, Nyepi, mungkin masyarakat lebih save money, jadi tahun ini agak menurun dari Valentine tahun sebelumnya, tahun lalu sampai 150 pesanan,” bebernya.

The Colorist sudah 5 tahun beroperasi dan ramai kebanjiran order tiap tahunnya.

“Tidak ngaruh di Bali,” jelasnya.

Sementara, stok cokelat di tokonya justru minim pembeli.

“Stok cokelat tidak begitu laku, mungkin orang-orang sudah bosen ngasih cokelat, kami tidak bisa monoton, setiap tahun ngikutin zaman, bisnis ini kan harus kreatif,” ucap Calvin.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved