Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Isu Virus ASF di Bali, GUPBI Bangli Benarkan Ada Penurunan Harga Bibit Babi

Isu merebaknya African Swine Fiver (ASF) hingga kematian babi mendadak di kabupaten lain, tak ayal membuat para peternak di Bangli cemas

Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Ketua GUPBI Bangli Sang Putu Adil (kanan) bersama Kadis PKP Bangli I Wayan Sarma (kiri). Isu Virus ASF di Bali, GUPBI Bangli Benarkan Ada Penurunan Harga Bibit Babi 

Isu Virus ASF di Bali, GUPBI Bangli Benarkan Ada Penurunan Harga Bibit Babi

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Isu merebaknya African Swine Fiver (ASF) hingga kematian babi mendadak di kabupaten lain, tak ayal membuat para peternak di Bangli cemas.

Kondisi ini juga berdampak pada harga bibit babi yang mengalami penurunan.

Ketua Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) Bangli, Sang Putu Adil menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari pengaruh sosial media.

Padahal wilayah Kabupaten Bangli tergolong masih aman dari virus ASF.

“Terlebih saat ini ada isu baru jika virus ASF menular dari hewan ke manusia. Padahal itu tidak benar,” katanya, Jumat (14/2/2020).

Lanjut dikatakan, harga babi di kalangan peternak cenderung masih stabil.

Dimana harga babi di peternak besar masih Rp 26 ribu hingga 28 ribu per kilogram.

Sedangkan di peternak kecil, harganya Rp 24 ribu per kilogram.

“Ini karena perbedaan kualitas. Namun jelang Hari Raya Galungan ini, stok babi dari Bangli masih aman,” ujarnya.

Sang Adil tidak memungkiri saat ini harga bibit babi di beberapa peternak cenderung jeblok.

Dari normalnya Rp 650 ribu hingga Rp 700 ribu untuk bibit usia 45 hingga 50 hari, beberapa peternak di Bangli menjualnya dengan harga Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu.

Ia menilai kondisi ini disebabkan kekhawatiran kalangan peternak, sehingga para peternak memilih tidak memelihara babi.

“Selain itu, GUPBI Bali juga mengimbau untuk mengurangi populasi. Karena dengan populasi yang sangat padat, akan memicu terjadinya penyakit. Dengan harga kisaran Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu, para peternak tergolong masih untung walaupun sangat tipis,” ungkapnya.

Harga babi ini, juga diakui Ni Putu Suyantini.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved