Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Pergub Arak Bali

Miliki 19.393 Pohon Lontar, Desa Dukuh Karangasem Hasilkan Arak 18 Ribu Liter/Hari

Miliki 19.393 Pohon Lontar, Desa Dukuh Karangasem Hasilkan Arak 18 Ribu Liter/Hari

Penulis: Wema Satya Dinata | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Wema Satyadinata
Peta Estimasi Potensi Bahan Baku Arak Desa Dukuh, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Bali. Miliki 19.393 Pohon Lontar, Desa Dukuh Karangasem Hasilkan Arak 18 Ribu Liter/Hari 

Miliki 19.393 Pohon Lontar, Desa Dukuh Karangasem Hasilkan Arak 18 Ribu Liter/Hari

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Gubernur Bali I Wayan Koster telah menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan Atau Destilasi Khas Bali.

Pergub Arak Bali tersebut memberi jaminan hukum dan perlindungan kepada para pembuat arak khas Bali hingga pemasaran produknya.

Manager Bali Concervation International (CI) Indonesia, Made Iwan Dewantama menerangkan, pihaknya sudah melakukan pendampingan kepada petani arak di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, Bali.

Lanjut Iwan, Desa Dukuh diapit Gunung Agung dan Laut Bali yang mencerminkan hubungan kekerabatan hulu hilir, baik secara ekologi maupun social ekonomi.

Desa ini mempunyai struktur lahan yang unik, yaitu sebagian besar merupakan lahan kritis sehingga hanya tanaman tertentu yang dapat tumbuh dengan baik, salah satunya adalah pohon lontar. 

Keberadaan pohon lontar ini cukup dominan, yang diketahui berdasarkan hasil pemetaan partisipatif yang dilakukan di Desa Dukuh.

Untuk memperkuat hasil pemetaan, maka dilakukan analisis spasial dengan menggunakan citra satelit agar mengetahui jumlah pohon lontar secara lebih akurat di Desa Dukuh.  

Wilayah desa dibagi menjadi 3 bagian (kluster) berdasarkan kerapatan pohon lontarnya, yaitu kerapatan rendah (0-7 pohon/ha), sedang (8-19 pohon/ha) dan tinggi (20-28 pohon/ha).

Dari analisis spasial ini, didapatkan perkiraan jumlah pohon lontar di Desa Dukuh 19.393 pohon.

Menurut anggota masyarakat pembuat arak, 2-3 pohon mampu menghasilkan 28 liter tuak per hari, sehingga bila semua pohon dipanen, maka akan menghasilkan hingga 181 ribu liter tuak per hari. 

Sementara itu untuk menghasilkan 1 liter arak dibutuhkan 10 liter tuak, sehingga akan dihasilkan 18 ribu liter arak/hari. 

“Dengan harga arak Rp 20 ribu/liter, maka nilai ekonomi dari arak bisa mencapai Rp 360 juta per hari. Komoditi yang sangat potensial untuk menyejahterakan masyarakat,” kata Iwan di Denpasar, belum lama ini.

Menurutnya, Arak harus dikembalikan kepada fungsinya sebagai tetabuhan dan komoditi untuk kesejahteraan masyarakat, yang artinya masyarakat setempat harus mampu menjaga dan menghormati alam sesuai dengan keberadaannya. 

Selain itu, dengan manajemen yang bagus maka proses produksi arak pun dapat menjadi daya tarik wisata dengan memperhatikan kaedah-kaedah kebersihan dan kesehatan, serta kuat dengan nilai-nilai budaya. 

“Proses pembuatan arak dengan bambu yang kemudian ditampung dalam botol kaca yang dianyam dengan bambu akan menjadi komoditi eksklusif dari Kubu khususnya, dan menjadi komoditi eksklusif dari Karangasem,” tuturnya.

(*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved