Babi Mati Mendadak Meluas di Karangasem, Sudah Tembus 50 Ekor di Lima Desa
Kasus babi mati mendadak di Karangasem bertambah. Hingga kemarin, kasus babi mati mendadak diperkirakan mencapai 50 ekor tersebar di lima desa.
Penulis: Saiful Rohim | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Penyemprotan dilakukan di sekitar kandang babi.
• Pernikahan Sheila Marcia dan DJ Dimas di Bali Tanpa Resepsi, Hanya Dihadiri Keluarga dan Sahabat
• Bikin Sedih, Sepeninggal Ashraf Sinclair, Noah Kerap Nangis dan Masuk Kamar
Petugas juga telah melakukan sosialisasi ke peternak, pembeli, serta penjual babi untuk mengelar bio - security kandang.
Yakni berupa penyemprotan dengan cairan desinfektan ke babi, kandang, serta bagian lain.
Tujuannya, untuk mencegah penularan ke hewan lainnya. Seperti virus Africa Swine Fever.
Sebelumnya, I Made Ari Susanta mengatakan, petugas dari Dinas Pertanian di tiap kecamatan sudah memberi desinfektan ke kandang babi milik warga.
Tapi jumlahnya terbatas lantaran minimnya anggaran dari Pemkab.
Sekarang Dinas Pertanian mengusulkan bantuan untuk mengantisipasi virus ke babi.
Selain itu, beberapa langkah antisipasi juga dilakukan.
Di antaranya pendataan peternak, pelaku usaha seperti penjual bibit, serta peternak.
Petugas kesehatan hewan telah bergerak memberikan pemahaman, sosialisasi ke pelaku usaha, penjual bibit babi dan peternak secara rutin.
Peternak babi di Karangasem juga diminta tak membeli bibit di daerah yang terpapar virus ASF. Dikhawatirkan bibit itu sudah terkena virus.
Petugas juga meminta dan menyarankan peternak membatasi manusia masuk ke kandang.
Walaupun tak dapat menular ke manusia, tapi virus dapat terbawa manusia lewat pakaiannya.
Untuk diketahui, populasi babi di Karangasem mencapai 103.456 ekor lebih, tersebar di delapan kecamatan. Jumlah tersebut diternak dalam skala rumah tangga.
Pemanfaatan makanan dari hijauan, makanan jadi, serta sisa - sisa makan warga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-babi.jpg)