Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ngopi Santai

Dunia yang Tunggang Langgang

Di Jakarta dan beberapa kota, orang mendadak borong sembako serta kebutuhan rumah tangga lainnya.

Tayang:
Penulis: DionDBPutra | Editor: Eviera Paramita Sandi
KIM WON-JIN / AFP
Orang-orang mengenakan masker saat berjalan di daerah Pyongyang, Korea Utara, 6 Februari 2020. 

Itulah sebabnya hari ini bukan hanya manusia, barang dan jasa yang bebas keluar masuk batas negara, penyakitpun menyebar bebas ke seluruh bumi.

Serentak sekejap.

Virus corona yang bermula dari Wuhan hanya dalam hitungan detik ikut melahirkan kengerian di banyak negeri.

Terulang fenomena epidemi penyakit global yang lebih dulu bikin geger seperti SARS, flu burung,
flu babi atau sapi gila yang menyeruduk membabi buta ke pelbagai belahan dunia.

Lalu bagaimana sebaiknya kita menghadapinya? Baik kiranya menyimak kisah anekdot dari Anthony de Mello berikut ini.

Suatu hari wabah menuju ke Damaskus dan melewati seorang kafilah di padang gurun.

“Mau ke mana kau wabah?” tanya kafilah.

“Saya akan ke Damaskus, mau merenggut 1.000 nyawa,” jawabnya.

Sekembali dari Damaskus, wabah bertemu lagi kafilah itu.

Si kafilah protes. “Hai wabah, mengapa kau merenggut 50.000 nyawa, bukan 1.000 orang seperti katamu?”

“Tidak,” kata wabah.

“Aku benar-benar hanya ambil 1.000 nyawa. Sisanya mati karena ketakutan.”

Pesan moral anekdot tersebut tentunya bukan sebuah candaan yang tak lucu.

Kita petik pesannya sebagai ikhtiar bersama menghentikan kengerian dan kepanikan atas coronavirus sekarang juga!

Toh bukan muskil virus itu sejatinya merenggut nyawa ribuan orang saja, tetapi jumlah yang mati bisa puluhan ribu, ratusan ribu hingga jutaan orang karena ketakutan.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved