Ngopi Santai
Dunia yang Tunggang Langgang
Di Jakarta dan beberapa kota, orang mendadak borong sembako serta kebutuhan rumah tangga lainnya.
Penulis: DionDBPutra | Editor: Eviera Paramita Sandi
Tanggung jawab pertama itu ada di tangan jurnalis dan pengelola media massa apapun platformnya.
Media mestinya tidak hanya mewartakan hal-hal yang mencemaskan.
Publikasikan pula secara proporsional upaya mencegah dan menyembuhkan.
Sejauh ini jurnalis belum banyak menulis dari sudut pandang mereka yang sembuh dari serangan corona, langkah mitigasi serta rupa-rupa ikhtiar jajaran kesehatan dan semua pemangku kepentingan menghadapi pagebluk global tersebut.
Beberapa jam setelah Presiden Jokowi mengumumkan dua WNI positif terjangkit corona, beberapa media menyebut nama korban dan alamatnya secara gamblang.
Televisi menayangkan kediamannya.
Media abai terhadap misi perlindungan kepada korban.
Media boleh menulis korban secara jelas kalau yang bersangkutan memang menghendakinya.
Tapi sedapat mungkin tidak. Hindari eksploitasi.
Transparasi korban hendaknya tetap dalam konteks kepentingan medis saja demi penanganan dan pencegahan virus itu meluas.
Otoritas kesehatan tentu butuh data rinci korban dan siapa saja yang pernah kontak fisik dengannya.
Dengan demikian penanganan akan lebih mudah.
Namun, rincian data tersebut tidak serta merta menjadi konsumsi publik melalui pemberitaan.
Sebab korban bisa saja dibully dan mendapat perlakuan kurang elok lainnya.
Poinnya adalah di tengah ketidakpastian seperti sekarang, media massa tak patut menambah demam kepanikan.
Wartakanlah sesuatu yang menumbuhkan harapan dan optimisme.
Good news is good news. Bukan bad news news is good news.
Kabar baiknya adalah lebih banyak penderita corona yang sembuh. Di China, hingga 3 Maret 2020, dari total 80.151 kasus 47.270 di antaranya sudah sembuh.
Di Vietnam seluruh 16 pasien bisa disembuhkan. Pun di Amerika Serikat 7 pasien corona sembuh berdasarkan laporan dua hari lalu. Total seluruh dunia yang sembuh 48.212 orang. Artinya lebih banyak yang selamat bukan?
Tanggung jawab media bersama elemen masyarakat untuk terus mendorong pengelola fasilitas publik, institusi pendidikan dan perusahaan merajut sistem higienis yang dapat membantu mengurangi dampak penyebaran virus corona.
Serangan virus corona merupakan ujian seberapa tangguh umat manusia dapat menghadapinya.
Kebersamaan dan solidaritas menjadi kunci.
Kuat kesan dunia hari ini tercerai-berai. Masih berpikir dan bertindak sendiri-sendiri. Mirip perilaku selfi. Foto diri, puji dan kagumi diri sendiri. Psikologi selfi dekat amat dengan selfish.
Mementingkan diriku, bangsaku, negeriku. Egoistis.
Masyarakat dunia tidak boleh lupa bahwa kita ini ibarat menumpang kapal pesiar yang sama.
Berlayar di tengah samudera menuju pelabuhan tujuan yang sama jua.
Maka tatkala lambung kapal bocor tertikam gunung karang dan karam, siapapun penumpang di dalamnya akan menghadapi risiko tenggelam bersama-sama.
Karena itu kapal harus kita jaga bersama-sama supaya tidak karam terserang corona.
Namanya saja penyakit, covid-19 bisa menyerang siapa pun tanpa kecuali.
Tak peduli kaya miskin, dikau cantik rupawan atau buruk rupa.
Dunia harus bersatu. Cari antivirus ini selekasnya.
Basmi virus tersebut sehingga kehidupan berjalan normal seperti sediakala.
Kalau masih berpikir dan bertindak sendiri-sendiri ya susah bung.
Yang paling mencemaskan adalah terjadi resesi ekonomi. Coronavirus cuma pemicu, dampaknya liar berlari ke mana-mana.
Sinyalnya sudah terendus jelas.
Sebagai misal di bidang olahraga. MotoGP Qatar ditunda. BWF pending sejumlah turnamen bulu tangkis. Liga sepak bola Serie A Italia libur.
Olimpiade Tokyo dan kejuaraan sepak bola Piala Eropa (Euro) 2020 dalam bayangan waswas apakah mungkin terlaksana sesuai jadwal.
Belum seorang pun pakar yang memprediksi kapan serangan virus ini akan berujung.
Dunia pun takkan pernah tahu setelah corona nanti berlalu, virus apalagi yang bakal berkunjung?
Penting diingat siklus epidemi global belakangan ini makin pendek jaraknya dengan daya rusak mengalirkan air mata lara.
Covid-19 pada akhirnya mengirim pesan kuat bahwa epidemi global tersebut merupakan masalah kemanusiaan.
Dia jauh melampaui batas kedaulatan negara, sekat suku, agama dan bangsa.
Ketika menyentuh urusan kemanusiaan, maka setiap insan wajib hukumnya untuk peduli, bekerjasama, saling mendukung, menopang dan meneguhkan.
Hadapi corona secara rasional serta tangan dan hati yang merangkul sesama. (dion db putra)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pyongyang-corona.jpg)