Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Dinkes Provinsi Bali Tegaskan Pengobatan Konvensional dan Tradisional Tidak Tumpang Tindih

Pengobatan tradisional akan diwadahi oleh Griya Sehat, dimana Griya Sehat merupakan sebuah tempat untuk pelayanan kesehatan tradisional

Penulis: Ni Kadek Rika Riyanti | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Tribun Bali/Ni Kadek Rika Riyanti
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr. Ketut Suarjaya, MPPM ketika dijumpai di Gedung DPRD Provinsi Bali, Senin (9/3/2020). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Kadek Rika Riyanti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr. Ketut Suarjaya, MPPM mengatakan bahwa pengobatan konvensional dengan pengobatan tradisional tidak akan tumpang tindih.

Hal tersebut ia tegaskan pada awak media seusai mengikuti agenda rapat Ranperda Penyelenggaraan Kesehatan di Gedung DPRD Provinsi Bali, Senin (9/3/2020).

Pengobatan tradisional akan diwadahi oleh Griya Sehat, dimana Griya Sehat merupakan sebuah tempat untuk pelayanan kesehatan tradisional yang dilakukan oleh tenaga kesehatan tradisional.

Tenaga kesehatan tradisional merupakan seorang yang sudah melalui pendidikan tertentu, seperti Diploma III bahkan Sarjana I seperti yang tersedia di Universitas Hindu Indonesia, Denpasar, Bali.

Dukung We Love Bali Movement, Bupati Suwirta Minta Laksanakan Kegiatan Dinas di Destinasi Sepi

Suami Pulang Kampung, Istri Nginap Bareng Duda, Sang Duda: Sehari Menginap, Kami Nggak Buat Apa-apa

Digelar Hingga April 2020, Berikut Informasi Terkait Pelaksanaan Group Painting Exhibition Pertiwi

“Itu artinya Griya Sehat merupakan pengobatan tradisional yang terstandar dengan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan tradisional,” ungkap dr. Suarjaya.

Dirinya juga mengatakan, bahwa Griya Sehat berbeda dengan panti sehat.

Panti sehat dilakukan oleh penyehat tradisional sehingga ini bersifat empiris berdasarkan lokal jenius.

“(Ranahnya) seperti pijat dan urut. Kalau Griya Sehat seperti ramuan, acupressure, akupunktur,” ujarnya.

Suarjaya menegaskan bahwa konvensional dan tradisional tidak akan tumpang tindih.

Hal ini karena pengobatan tradisional sifatnya pilihan. Sehingga pasien nantinya dapat memilih antara pengobatan tradisional atau konvensional.

Ayip Budiman Pendiri Rumah Sanur Creative Hub Tutup Usia 

Bali United Akan Melawan Ceres Negros di Filipina Tanpa 3 Pemain Penting

Merokok di Lapangan Puputan Badung dan Tiara Dewata, 6 Orang Ini Didenda Rp 150 Ribu

“Contohnya ada seorang ibu yang sakit kepala, datang ke puskesmas, ternyata sampai di sana dicek tensinya normal, tidak ada yang lain-lain yang mempengaruhi sakit kepala tersebut, jadi pilihannya ibu mau dipijat atau diberi obat,” katanya.

“Kalau mau dipijat, bisa ke poliklinik tradisional. Di sana ada acupressure, dengan acupressure saja hilang sakit kepalanya,” imbuhnya.

Terkait anggaran, dr. Suarjaya mengatakan bahwa Griya Sehat tidak didanai oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov), ini kembali lagi kepada masing-masing penyedia layanan kesehatan.

107 WNA Akan Bergabung dengan Kapal Viking Sun dari Bali ke Kolombo

Angka Terakhir Tahun Kelahiran Dapat Ungkap Banyak Hal, Kemampuan Hingga Kepribadian Seseorang

“Itu (mengenai anggaran Griya Sehat) masing-masing punya faskesnya. Berbeda lagi. Kalau membangun sebuah fasilitas tentu ada anggarannya. Sumber Daya Manusia (SDM) ada anggarannya."

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved