Petir Saat Cuaca Ekstrem, Ini Kecepatan dan Tegangan Sambaran Petir yang Patut Diwaspadai

Kepala Stasiun Geofisika Sanglah Denpasar, menjelaskan ciri-ciri datangnya petir adalah langit tiba-tiba gelap disertai datangnya awan petir

Tribun Bali/ Istimewa
Ilustrasi petir 

Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Intensitas bencana di Kota Denpasar cenderung mengalami peningkatan.

Terutama kejadian bencana hidrometeorologi yang disebabkan oleh cuaca dan iklim.

Salah satunya sambaran petir.

Kepala Stasiun Geofisika Sanglah Denpasar, Ikhsan ST, M.Si mengatakan, tegangan dan kecepatan sambaran petir tidak memungkinkan untuk bisa dihindari manusia.

"Muatan listrik yang dihasilkan petir mencapai 150 juta volt. Sambaran petir mampu bergerak dengan kecepatan cahaya atau sekira 670 juta meter/jam."

BREAKING NEWS! Begal di Denpasar Tertangkap & Jadi Bulan-bulanan Massa, Seusai Adang & Pukuli Korban

Pengobatan Tradisional Masuk Puskesmas di Bali, Nanti Pasien Tinggal Pilih Mau Berobat Cara Apa

Respon Menkeu & Menkopolhukam Soal Iuran BPJS Kesehatan Batal Naik, Mahfud MD: Ya Kita Ikuti Saja

"Namun rata-rata bergerak pada kecepatan 270 ribu meter/jam," jelas Ikhsan kepada Tribun Bali, Selasa (10/3/2020)

Sehingga, petir bisa merusak atau menghancurkan bangunan, memusnahkan pohon hingga menimbulkan korban jiwa manusia.

"Jika petir menyambar makhluk hidup maka akan terpental dan dapat tewas seketika dengan tubuh terbakar, apabila menyambar rumah, maka rumah dan perabotan elektronik akan rusak," tutur dia.

Ia menjelaskan ciri-ciri datangnya petir adalah langit tiba-tiba gelap disertai datangnya awan Comulunimbus berwarna keabu-abuan, kemudian udara terasa pengap.

Pasien Positif Virus Corona di Indonesia Capai 19 Orang, Jubir Sebut Tertular di 3 Negara

Ririn Ekawati Akhirnya Buka Suara Terkait Kasus Narkoba yang Menyeret Dirinya

PSM Makassar Jalani Jadwal Padat, Begini Kata Pelatih

Petir terjadi karena ada perbedaan potensial antara awan dan bumi yang cukup besar maka terjadi pembuangan muatan negatif (elektron) dari awan ke bumi.

"Pada proses ini media yang dilalui elektron adalah udara."

"Pada saat elektron mampu menembus ambang batas isolasi udara di situlah terjadi guruh adau ledakan suara petir," jelas dia

Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar, petir atau halilintar pernah menyambar beberapa objek.

"Bangunan milik warga masyarakat, Padmasana Pura Agung Jagatnatha, Balai Banjar, Candi Gelung Kori dan bahkan pernah menewaskan buruh tani yang sedang bekerja di sebuah sawah di Kelurahan Penatih tahun 2013 silam," ujar Kalak BPBD Kota Denpasar Kota Denpasar, Ida Bagus Joni Ariwibawa. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved