Ogoh-Ogoh Ngeruak Banjar Yangbatu Kauh Denpasar, Gunakan Bunga Kamboja Kering
Namun ada yang unik dalam ogoh-ogoh ini, yakni warna pada bhuta kala lelaki menggunakan bunga kamboja kering.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika
TRIBUN-BALI,COM, DENPASAR - Dua sosok bhuta kala, satu lelaki, satu lainnya perempuan diangkat oleh ST Eka Dharma Canti, Banjar Yangbatu Kauh, Kota Denpasar, Bali.
Sosok bhuta kala perempuan terlihat kurus kering dengan lidah menjulur serta rambut putih.
Sementara sosok bhuta kala lelaki juga tak kalah seram dengan tubuh agak gempal dan taring yang runcing.
Namun ada yang unik dalam ogoh-ogoh ini, yakni warna pada bhuta kala lelaki menggunakan bunga kamboja kering.
Bunga yang digunakan yakni 2.5 kg.
• Sebentar Lagi, Pokemon Go Bisa Dimainkan Tanpa Perlu Keluar Rumah
• Tingkatkan Imunitas Tubuh untuk Hindari Penyakit, Konsumsi 6 Jenis Makanan dan Bahan Makanan Ini
• Update: Pasien Pengawasan Covid-19 di RSUP Sanglah Sebanyak 13 Orang
Ketua ST Eka Dharma Canti, Banjar Yangbatu Kauh, Oka Mahendra saat diwawancarai Minggu (15/3/2020) mengatakan dalam pembuatan ogoh-ogoh ini pihaknya masih menekankan konsep kearifan lokal.
Di mana pihaknya menggangkat tema Ngeruak.
"Ngeruak merupakan salah satu upacara yang dilaksanakan umat Hindu Bali sebelum mendirikan bangunan. Hal ini dimaksudkan agar pekarangan yang akan dibangun telah suci dan terbebas dari gangguan Bhuta Kala," kata Oka.
Adapun banten caru-nya dalam Ngeruak ini yakni menggunakan ayam brumbun yang diolah menjadi 33 tanding.
Selanjutnya ditambah dengan banten pakala hyangan yang terdiri atas sasayut durmanggala, prayascita mala, yang dihaturkan kepada Sang Bhuta Bhutana, dan segehan agung, beserta dengan tatabuhan, dihaturkan kepada Sang Bhuta Dengen.
• STMIK Primakara Terapkan Kuliah Online Penuh Selama Dua Minggu untuk Antisipasi Covid-19
• Polisi Masih Selidiki Orok Bayi yang Ditemukan di Aliran Air Desa Dalung
• Hasil Seleksi KSN Tingkat Kota Denpasar Keluar, Berikut Nama Sekolah yang Siap Bersaing di Provinsi
Dasar rumah diawali dengan bata merah, diisi rajahan bhadhawang nala, bertuliskan (Ang), di atasnya berisi klungah nyuh gading dikasturi dan airnya dibuang bertuliskan Ong.
Dilengkapi juga dengan wangi tangi, lengawangi, buratwangi, dedes, dan kwangén kraras (daun pisang kering), mengunakan uang kepeng 11 keteng, dibungkus kain putih, lalu diikat dengan benang tujuh warna.
Selain itu pada kwangen menggunakan uang sejumlah 22 keteng, dengan raka (buah) lengkap.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ogoh-ogoh-ngeruak-banjar-yangbatu-kauh-denpasar.jpg)