Ekonom Ini Akui Krisis Moneter Mengintai, Trisno: BI Terus Perkuat Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah

Kepala Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho, menjelaskan penurunan Rupiah saat ini karena adanya shock outbreak COVID-19

Ekonom Ini Akui Krisis Moneter Mengintai, Trisno: BI Terus Perkuat Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah
tribunnews
Foto ilustrasi uang rupiah 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Kepala Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho, menjelaskan penurunan Rupiah saat ini bukan karena fundamental perekonomian Indonesia, namun karena adanya shock outbreak COVID-19 yang mendorong terjadinya kepanikan.

“Pembalikan modal, tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di negara-negara emerging lainnya, dimana investor cenderung berinvestasi pada safe asset,” jelasnya, Senin (23/3/2020).

COVID-19 atau Corona, menekan nilai tukar Rupiah sejak pertengahan Februari 2020.

Berkurangnya aliran masuk modal asing, akibat meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global, telah memberikan tekanan kepada nilai tukar Rupiah, yang melemah sejak pertengahan Februari 2020.

‘Rapid Test” Virus Corona Akan Diprioritaskan Bagi Kelompok Ini

Ramalan Shio Hari Ini 24 Maret 2020, Shio Macan Kendalikan Emosi, Shio Ayam Lebih Kerja Keras

Khawatir Terinfeksi Virus Corona, Petugas Medis di Puskesmas Buleleng II Pakai Jas Hujan

Hingga 18 Maret 2020, Rupiah secara rerata melemah 5,18 persen dibandingkan rata-rata level Februari 2020.

Dan secara point to point harian melemah sebesar 5,72 persen.

Dengan perkembangan ini, Rupiah dibandingkan dengan level akhir 2019 terdepresiasi sekitar 8,77 persen, seiring pelemahan mata uang negara berkembang lainnya.

“Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah, sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar. Untuk itu, Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas stabilisasi di pasar DNDF, pasar spot, dan pembelian SBN dari pasar sekunder,” jelasnya.

Untuk mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar, Bank Indonesia terus mengoptimalkan operasi moneter guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar dan ketersediaan likuiditas baik di pasar uang maupun pasar valas. Untuk menjaga ketahanan perekonomian Indonesia, Bank Indonesia terus berkoordinasi dengan pemerintah dan OJK.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18-19 Maret 2020 memutuskan menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 4,50 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 5,25 persen.

Halaman
123
Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved