Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Minimalisir Kerumunan, Krama Desa Adat Sesetan Ngaben Gunakan Ambulans

Untuk membatasi jumlah kerumunan, warga di Desa Adat Sesetan, Denpasar melaksanakan upacara pengabenan dengan diantar ambulans.

Tayang:
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Wema Satya Dinata
Istimewa
Minimalisir Kerumunan, Krama Desa Adat Sesetan Ngaben Gunakan Ambulans 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Untuk membatasi jumlah kerumunan, warga di Desa Adat Sesetan, Denpasar melaksanakan upacara pengabenan dengan diantar ambulans.

Proses pengabenan ini pun cuma melibatkan 10 orang

Penyarikan Desa Adat Sesetan, I Wayan Dudik Mahendra menjelaskan, cara ini dilakukan Desa Adat Sesetan untuk mengikuti surat edaran Gubernur Bali, Walikota dan juga surat edaran dari Bendesa Adat Sesetan soal pembatasan jumlah kerumunan

"Jadi kebetulan di desa juga sudah ada surat imbauan jadi kami mengikuti itu," kata Dudik, Jumat (27/3/2020)

Pemerintah Siapkan Peraturan Karantina Wilayah, Mahfud MD:Toko,Warung dan Supermarket Dilarang Tutup

Gubernur dan Rektor Sepakati RS PTN Unud Jadi Faskes Khusus Perawatan PDP & Pasien Positif Covid-19

PSSI Tetapkan Liga 1 dan 2 Indonesia Ditunda, Gaji Pemain Dibayar Maksimal 25 Persen Maret-Juni 2020

Ada empat warga yang meninggal dari tiga banjar yakni Banjar Pembungan, Banjar Kaja, Banjar Gaduh.

"Di Banjar Gaduh ada dua yang meninggal," ujarnya

Sejak beberapa hari sebelum perayaan nyepi, memang di desa adat Sesetan sudah ada warga yang meninggal.

Total warga Sesetan yang meninggal dari sebelum Nyepi sampai sesudah nyepi sebanyak tujuh orang

"Sesungguhnya ada tujuh warga yang meninggal dari sebelum melasti sampai setelah nyepi ini. Tiga itu sudah memilih kremasi karena memperhatikan imbauan. Kemudian empat tetap menggunakan setra adat sesetan dengan tetap mengikuti surat edaran," tutur Dudik

Proses pengabenan inipun berlangsung singkat. Start pukul 12.10 wita, jenazah yang sudah selesai diupacarai di rumah duka kemudian dimasukkan ke dalam ambulans.

Mereka yang boleh menuju ke setra dibatasi maksimal 15 orang yang terdiri dari keluarga inti, satu prajuru banjar dan pecalang untuk mengatur lalu lintas

"Pecalang hanya bertugas di perempatan. Tidak ikut ke setra. Tiga Jenazah dibawa menggunakan ambulans. Satu diarak jalan kaki karena dekat kuburan, setelah itu jenazah langsung di bakar di setra," kata Dudik

Upaya ini dilakukan untuk mencegah penularan virus corona atau covid 19 di masyarakat

"Itu usaha kami untuk meminimalkan keramaian," ujar dudik. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved