Tiba dari Malaysia, Warga Kupang Ditolak Warga Pemilik Kos di Denpasar karena Takut Covid-19

Seorang perempuan warga Kupang, Nusa Tenggara Timur berinisial YHT mengalami nasib malang, kedatangannya di tempat kos sepupunya BB (28) ditolak

istimewa
Warga Kupang NTT, YHT yang tiba dari Malaysia bersama koper dan barangnya, ditolak warga pemilik kos di Denpasar Utara karena kecemasan terhadap Covid-19. 

Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Seorang perempuan warga Kupang, Nusa Tenggara Timur berinisial YHT mengalami nasib malang, kedatangannya di tempat kos sepupunya BB (28) di Jalan Antasari Gang Santen no.3 Desa Peguyangan Kangin, Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali, tidak diterima warga.

Kejadian ini terjadi pada hari Kamis (26/3/2020) saat Hari Ngembak Geni, di mana aktivitas mayoritas masyarakat disetop dan akses-akses jalan desa adat banyak yang ditutup sebagai tindak lanjut imbauan Gubernur Bali untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Langkah YHT tertahan sebelum menginjakkan kaki dan merebahkan badan di kamar kos sepupunya.

YHT mulanya tiba dari Malaysia di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Unud Perpanjang Masa Jeda Kinerja dalam Kampus Hingga 4 April 2020, Tri Dharma PT Dilakukan Online

Cerita Dokter Kewalahan Tangani Pasien Covid-19, Terpaksa Pilih Pasien Muda untuk Diselamatkan

Pansel Telusuri Rekam Jejak Calon Kepala Dinas di Buleleng

Karena saat itu tidak ada penerbangan menuju Kupang, ia memilih menemui sepupunya di tempat kos.

Sekitar Pukul 15.00 WITA, ia tiba di lokasi tersebut dengan membawa koper dan barang-barangnya, namun karena cemas wabah Virus Corona, pihak pemilik kos IWD (53) menolak kedatangannya.

YHT sejatinya membawa surat keterangan kesehatan.

Kejadian ini kemudian ditangani oleh aparatur yang berwajib dalam hal ini meliputi Kepala Kepolisian Sektor Denpasar Barat, Babinsa, Perbekel, Kepala Dusun hingga Kelian Adat, mereka berkoordinasi dan melakukan negosiasi.

“Sudah klir. Memang diminta ditahan dulu, karena dari Malaysia, tiba di bandara langsung ke sana (kos), ia tidak bisa terbang ke Kupang, naik taksi ke kos di Antasura itu, sampai sana disetop, tidak diijinkan, yang punya kos cemas, walaupun ada surat kesehatan, namanya warga cemas, situasinya seperti ini,” ungkap Perbekel Desa Peguyangan Kangin, I Wayan Susila saat dijumpai Tribun Bali di kantor desa setempat, Jumat (27/3/2020).

Satu Warga Tabanan Positif Corona, Masyarakat di Daerah Korban Diminta Isolasi Diri 14 Hari

Tak Boleh Kumpulkan Siswa Untuk Ujian, Tidak Ada Ujian untuk Kenaikan Kelas

Investor Tiongkok Serahkan Bantuan 40 Ton Alat Kesehatan untuk Penanganan COVID-19 di Indonesia

Hasil negosiasi dari pihak Babinsa dan Kepolisian menyarankan kepada YHT untuk kembali ke Kupang.

Lalu sekitar pukul 17.00 WITA, YHT diantar oleh saudaranya menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai.

“Kemudian dilakukan negosiasi dari berbagai pihak, disarankan agar yang bersangkutan segera kembali ke bandara, untuk ambil tiket terbang ke Kupang biar tidak usah menginap di kos, diantar sepupunya menggunakan mobil akhirnya ke bandara,” beber dia.

Bahkan, setelah itu lokasi tempat warga Kupang yang tiba dari Malaysia itu langsung disterilisasi disemprot dengan disinfektan.

“Semua yang di sana disemprot disinfektan, orang-orangnya juga, namun yang jelas sudah clear semua,” pungkasnya. (*)

Penulis: Adrian Amurwonegoro
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved