Corona di Bali

Dari Rumah Ibadah hingga Membayangkan Berakhirnya Pandemi Corona

Corona telah mengajarkan banyak hal yang tak hanya ihwal kesehatan, tetapi juga relasi sosial, budaya, ekonomi, hingga politik.

Pixabay
Ilustrasi virus corona - Corona telah mengajarkan banyak hal yang tak hanya ihwal kesehatan, tetapi juga relasi sosial, budaya, ekonomi, hingga konstelasi politik mengalami penyesuaian-penyesuaian. 

TRIBUN-BALI.COM - Rumah-rumah ibadah seketika sepi, bahkan ada yang ditutup sejak beberapa hari terakhir.

Kawan saya, yang biasanya salat jumat berjamaah di masjid, harus beribadah di rumah.

Kawan yang Kristen punya cerita: saat misa dua minggu lalu, ritus jabat tangan salam damai untuk sementara waktu ditiadakan, mencelupkan tangan ke air suci juga tak diwajibkan.

Demikian pula umat Hindu Bali. Turunnya Sang Kala Korona ke muka bumi mengharuskan prosesi melasti yang biasanya semarak dengan iring-iringan, kini dibatasi.

Arak-arakan ogoh-ogoh serta keriuhannya saat malam pengerupukan, ditiadakan.

Sasih Kesanga (bulan kesembilan dalam sistem penanggalan Bali) seakan mengingatkan kembali kisah-kisah mistis tentang merajalelanya wabah penyakit.

Nyaris tak ada otoritas agama yang tak tunduk untuk menghindari kerumunan umatnya yang pada hari normal selalu memenuhi tempat-tempat ibadah.

Merapal doa serta puja-puji pada Sang Maha – pada beberapa hari terakhir – cukup dari rumah masing-masing.

Saya menemukan gambar menarik di Twitter terkait kondisi ini. Dalam gambar tersebut, tampak tiga orang petinggi agama yang berbeda menunggu seorang pakar ilmiah sedang melakukan riset di depannya.

Kemudian gambar tersebut dipertegas dengan tulisan: All religions waiting for a positive response from Science.

Belum pernah saya saksikan ada wabah yang lebih mengerikan daripada apa yang terjadi saat ini.

Halaman
1234
Penulis: Widyartha Suryawan
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved