Seni Decopage Pada Keben Beromzet Hingga Rp 70 Juta Perbulan
Komala mulai menggeluti usaha Seni Decopage sejak tahun 2015 lalu, Kini omzet bisa capai Rp 70 juta perbulan
Penulis: Putu Supartika | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kreativitas memang selalu membuahkan hasil.
Seperti halnya yang dilakukan oleh Komang Ayu Kristiana Dewi Komala, saat ditemui beberapa waktu lalu di kediamannya di Ubung, Denpasar, Bali.
Ia menggeluti seni decopage atau menempelkan potongan gambar yang dicetak pada kertas tisu dan ditempel pada benda seperti keben, tas, maupun dompet.
Bahkan dirinya mampu meraup omzet Rp 60 juta hingga Rp 70 juta dalam sebulan.
• Ringankan Beban Masyarakat, PDAM Gianyar Bebaskan Denda Meter Per Maret
• Tenaga Medis Covid-19 RSUD Sanjiwani Belum Cek In di Hotel Gianyar
• Pedagang Ini Keluhkan Harga Kebutuhan Pokok Naik, Ini yang Dikatakan Kepala Disperindag Karangasem
Komala mengaku, mulai menggeluti usaha ini sejak tahun 2015 lalu.
Yang dimulai dari membuat keben yang dihias untuk kebutuhannya sendiri, dilanjutkannya menjadi usaha.
"Kalau keben ini saya mulai tahun 2015. Kan awalnya bikin keben untuk kebutuhan sendiri, nah kerena banyak permintaan jadinya buat banyak," katanya.
Tak hanya menerapkannya pada keben, seni decopage ini juga ia kembangkan dan tahun 2016 mulai membuat tas pompom, hingga dompet.
"Kalau keben targetnya kan lokal, kalau tas maupun dompet targetnya luar Bali," imbuhnya.
Produknya ini sudah merambah pasar lokal, nasional bahkan eksport.
Untuk eksprot, produknya ini pernah merambah Singapura, Malaysia, Australia, Korea Selatan, Jepang, hingga Belgia.
Namun karena merebaknya virus Corona atau Covid-19, eksport jauh menurun dan ia mengandalkan pasar lokal saja.
"Kalau di sini kami cuma penambahan motif hiasan, penambahan nama, sama pengecatan," katanya.
Sedangkan untuk anyaman Ia dapatkan dari perajin di daerah Buleleng dan Bona, Gianyar, Bali.
Ia mengatakan setiap hari ada saja yang melakukan pemesanan baik keben, tas, maupun dompet.
"Ya kebetulan setiap hari ada yang memesan, stok juga ada. Untuk pemesanan tergantung, kalau hari raya paling banya keben yang dipesan. Kalau musim liburan biasanya tas, maupun dompet," katanya.
Untuk kisaran harga yakni keben Rp 80 - 200 ribu, sedangkan tas yang di dalamnya berisi keben Rp 400 - 500 ribu.
Pemilik perusahaan Decocraf Bali ini juga mengatakan, untuk pasar lokal sendiri produk decopage yang menjadi tren pasar saat ini masih pada keben dan tas keben.
Sementara untuk pasar nasional dan ekspor, beberapa produk decopage yang banyak permintaan seperti tas, topi serta tas tangan.
"Kalau untuk keben, beberapa daerah di luar Bali seperti Jakarta, Tanggerang dan beberapa daerah lainnya cukup ada permintaan. Tapi untuk produk anyaman lainnya, sudah ke seluruh Indonesia, termasuk beberapa negara luar," imbuhnya.
Untuk pasar ekspor sendiri dikatakannya belum menjual dalam jumlah besar (grosir).
Saat ini dia hanya memanfaatkan permintaan dari konsumen langsung yang melihat produknya di medis sosial ataupun pada alamat website.
Diakuinya pemasaran produknya memang lebih kepada media online.
"Kalau keluar negeri biasanya pengiriman hanya 20-30 pcs. Jumlah banyak, kami belum," imbuhnya.
Di Bali sendiri dikatakannya produk decopage ini cukup diminati, terutama untuk peralatan sembahyang.
Wanita yang juga berprofesi sebagai seorang dokter umum ini mengatakan, untuk penjualan lokal biasanya produk di ambil langsung ke tempat produksi oleh pedagang ataupun resseler.
Tidak hanya anyaman berbahan dasar bambu, pihaknya juga memasok kerajinan anyaman yang berbahan lontar, mendong dan pandan.
Selain penambahan decopage, produk anyaman yang dijualnya juga ada ditambahkan pompom atau mote. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/usaha-decopage.jpg)