Citizen Journalism
Merdeka Belajar Ala Komunitas Belajar English Corner di Desa Sidatapa Kecamatan Banjar,Buleleng Bali
Sejak didirikan pada 19 Jauari 2019 atas inisiatif Bapak Wayan Ariawan, English Corner didedikasikan untuk menghasilkan tenaga terampil berbahasa
Bentuk dari dukungan itu misalkan dengan menyediakan tempat belajar bagi siswa-siswi komunitas, menjaga kenyamanan dan rasa aman bagi para tutor asing serta turis yang berkunjung ke desa.
Beberapa warga desa bahkan menawarkan rumahnya untuk ditinggali para tutor asing yang berasal dari luar negeri. Dengan menciptakan rasa aman dan nyaman, turis betah berada di desa. Di samping itu bisa menjadi ajang latihan bagi siswa binaan untuk mengaktualisasikan keterampilan berbahasa Inggrisnya.
Komunitas Belajar English Corner tidak memiliki gedung. Mereka belajar di mana saja. Halaman rumah penduduk, di balai desa, pelataran pura, pantai bahkan di hutan atau kebun cengkeh.
Pelayanan pendidikan diberikan tanpa memungut biaya sepeserpun. Para pengajar atau tutor bersifat relawan atau voluntir.
Mereka yang menjadi tutor kadang tidak hanya menyumbangkan tenaga, waktu dan kecerdasannya, tetapi juga sebagian materinya untuk kelangsungan komunitas. Tutor bisa berasal darimana saja tergantung kesedian untuk mengabdi. Beberapa di antaranya bahkan berasal dari luar negeri seperti Jepang, Inggris, Skotlandia, Prancis, Spanyol, Belanda, Jerman dan beberapa negara Skandinavia.
Ada dua motif orang luar negeri berniat menjadi relawan tutor. Pertama menghabiskan liburan, kedua melakukan penelitian. Calon tutor baik lokal maupun asing mendaftar melalui dua laman web Desa Sidatapa yakni http://sidatapaenglishcorner.com dan http://baliagavillage.com yang dikelola langsung oleh pendirinya Bapak Wayan Ariawan.
Alamat http://sidatapaenglishcorner.com membawahi 41 corner yang tersebar di seluruh Bali, sedangkan alamat web http://baliagavillage.com memberikan gambaran informatif tentang 5 desa Bali kuno yakni SCTPB meliputi Sidatapa, Cempaga, T, Pedawa, Banyusri,
Terkait dengan model atau rujukan pedagogik, Komunitas Belajar English Corner tidak terikat kurikulum tertentu. Dalam teks ideal ketika komunitas ini pertama kali digagas, anak-anak belajar tanpa kurikulum.
Mereka belajar secara bebas dan mengalir sehingga diharapkan tidak terbebani oleh formalitas pendidikan yang sudah didapatkan di sekolah. Terpenting anak-anak belajar bahasa asing yang sifatnya praktis dan komunikatif tanpa embel-embel grammar.
Meski disebutkan tanpa menjadikan kurikulum tertentu sebagai role model, amatan saya ketika mengunjungi komunitas ini pada bulan Oktober 2019 dalam rangka penelitian lapangan pada Mata Kuliah Manajemen Pariwisata Program Studi Pendidikan Sejarah Undiksha, dapat disimpulkan bahwa proses pengajaran mengadopsi Catur Asrama.
Di India kita mengenal tokoh pendidikan Rabindranath Tagore yang mendirikan rumah belajar Santiniketan. Di Amerika Latin bergaung nama Paulo Freire yang namanya sering dicatut ketika berbicara pendidikan kritis. Di Indonesia kita mengenal salah satu tokoh dari Tiga Serangkai, Ki Hadjar Dewantoro yang mendirikan Taman Siswa. Lalu di Bali ada pola pengajaran yang mengadopsi pemikiran pada pustaka suci Hindu yang disebut Catur Asrama.
Pada beberapa momen, kadang dilekatkan pula falsafah lokal Tri Hita Karana untuk menguatkan identitas kebalian.
Adapun unsur-unsur penting dari Catur Asrama itu meliputi, pertama, Brahmacari berarti pencarian ilmu pengetahuan yang diwujudkan dengan belajar mandiri.
Kedua, Grahasta bermakna hidup berumah tangga yang diwujudkan dengan belajar kelompok.
Ketiga, Wanaprasta berarti kontemplasi diri diwujudkan dengan evaluasi belajar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/merdeka-belajar-ala-komunitas-belajar-english-corner-ecor.jpg)