Petani Subak Uma Dawa Gianyar Kesulitan Mencari Buruh Panen

Mereka selama ini mengandalkan buruh dari Jawa. Disebabkan pandemi covid-19, banyak dari mereka yang telah pulang kampung.

ISTIMEWA
Seorang tukang traktor tengah bekerja di saah satu petak sawah di Subak Uma Dawa, Desa Pejeng Kangin, Tampaksiring, Gianyar, Kamis (9/4/2020) 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Di tengah banyaknya perusahaan yang merumahkan karyawan, banyak asumsi menyebutkan, akan banyak masyarakat yang beralih ke sektor pertanian.

Namun hal tersebut tidak berlaku di Desa Pejeng Kangin, Tampaksiring, Gianyar Bali, khusus di Desa Adat Uma Dawa.

Sebab saat ini para petani justru kesulitan mencari buruh. Baik buruh panen maupun tukang traktor.

Mereka selama ini mengandalkan buruh dari Jawa. Disebabkan pandemi covid-19, banyak dari mereka yang telah pulang kampung.

APD untuk Penanganan Covid-19 dari Bos Bali United Sudah Diterima Bupati Gianyar

Alami Depresi, Saniwati Bersama Anaknya Diamankan Satpol PP Denpasar Pukul 22.00 Wita

Ungkapan PMI Asal Karangasem Setelah Tiba di Bali, Sudah Ikuti Berbagai Tahapan Tes Kesehatan

Informasi dihimpun Tribun Bali, Kamis (9/4/2020) diketahui, saat ini para petani di Subak Uma Dawa, ada sebagian besar yang tengah panenn, dan ada juga harus memasuki sesi menggemburkan tanah sawah menggunakan mesin traktor. Sebelumnya, pekerjaan ini dilakukan oleh sekaa manyi yang beranggotakan warga setempat.

Namun seiring waktu sekaa tersebut bubar karena beralih ke pekerjaan lain.

Akhirnya pekerjaan tersebut diambil alih oleh buruh berasal dari Jawa.

Jro Bendesa Uma Dawa, Wayan Sunarta membenarkan hal tersebut. Lantaran kesulitan mencari buruh akibat covid-19, sebagian besar petani saat ini justru memanen sendiri, hal serupa juga terjadi saat membajak sawah.

“Ada yang mulai kewalahan panen, karena kesulitan mencari buruh. Buruh dari Jawa informasinya tidak bisa masuk ke Bali,” ujarnya.

Atas kondisi tersebut, Sunarta berharap masyarakat mau  turun lagi bekerja di sektor pertanian sehingga perekonomian bisa jalan.

Sebab kata dia, sampai saat ini masyarakat yang sebelumnya bekerja di pariwisata, meskipun sudah dirumahkan, mereka masih belum memiliki minah mengambil pekerjaan pertanian ini.

“Kami sudah anjurkan masyarakat yang menganggur agar terjun ke sketor pertanian,” ucapnya. (*)

Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved