Perang Timur Tengah
Harga Oli Naik Tiap Pekan, Bengkel Motor di Gianyar Kehilangan Banyak Konsumen
Otomotif menjadi salah satu industri yang paling terdampak konflik Timur Tengah hingga, Rabu 10 Juni 2026.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Ringkasan Berita:Otomotif menjadi salah satu industri yang paling terdampak konflik Timur TengahHarga oli mengalami naik signifikan di Gianyar
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Otomotif menjadi salah satu industri yang paling terdampak konflik Timur Tengah hingga, Rabu 10 Juni 2026.
Di mana, harga oli terus mengalami kenaikan signifikan, bahkan hampir setiap pekan. Kondisi ini menyebabkan banyak bengkel, terutama sepeda motor yang kehilangan konsumen hingga 50 persen.
Jihan, seorang mekanik motor di Bengkel Montir Dewata di Raya Goa Gajah wilayah Desa Kemenuh, Sukawati mengatakan, hampir semua jenis oli mengalami kenaikan signifikan, seperti oli MPX yaitu oli rekomendasi motor Honda, dulu seharga Rp50 ribuan, sekarang menyentuh harga Rp78 ribu.
Baca juga: Tumpahan Oli Berceceran di Klungkung, 6 Pengendara Jatuh, BPBD Langsung Melakukan Penanganan
Sementara oli Evalube yang dulunya di kisaran harga Rp20 ribuan sekarang telah menyentuh harga Rp58 ribu.
"Harganya terus naik, hampir setiap minggu naik. Untuk oli MPX sekarang saya jarang stok, karena harganya naik tajam, sudah menyentuh Rp78 ribu, dari yang awalnya hanya Rp 50 ribuan," ujarnya.
Kenaikan harga oli ini sangat berdampak pada konsumen. Kata dia, penurunan konsumen hampir 50 persen.
Selain itu, biasanya konsumen datang ke bengkelnya melakukan pergantian oli sekaligus melakukan servis kendaraannya.
Namun saat ini, hanya ganti oli saja mereka menanyakan harga oli terlebih dahulu, jika dinilai mahal mereka akan pergi.
Baca juga: Konflik Timur Tengah, Bali Fokus Incar Pasar Asia Timur, Dukungan 5 Menteri Mengalir
"Dengan kenaikan harga oli ini pelanggan agak turun, sampai 50 persen. Kadang biasanya ganti oli sekalian servis. Tapi sekarang ganti oli pun nanya harga dulu, kalau dinilai mahal mereka pergi," jelasnya.
Hal senada juga dikatakan I Kadek Putra, pemilik sekaligus mekanik bengkel BMS motor di Jalan Raya Desa Buruan, Kecamatan Blahbatuh.
Dia mengatakan, sejak awal konflik Timur Tengah, oli jenis Federal yang biasa dijualnya terus mengalami kenaikan.
Dari yang awalnya seharga Rp 37 ribu menjadi Rp 43 ribu dan saat ini sudah menyentuh harga Rp 51 ribu.
"Tentu kenaikan itu sangat berdampak, konsumen jadi jarang yang datang, apalagi mendekati hari Raya Galungan, kebutuhan masyarakat lagi banyak-banyaknya," ujarnya.
Baca juga: Dampak Perang Timur Tengah, Dari BBM dan LPG, Kini Harga Plastik Kresek di Bali Naik 100 Persen
Putra mengatakan saat ini dirinya tengah mencari-cari oli dengan harga murah, tentu tetap mengutamakan kualitas, agar pelanggannya bisa kembali melakukan pergantian oli ke bengkelnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Mekanik-sedang-memperbaiki-sepeda-motor-di-bengkel-motor-4.jpg)