Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ngopi Santai

Kambali Meniti Jalan Sunyi

KAMI biasa menyapanya Cak Ali atau Mas Ali penulis buku Euforia Sepak Bola Bali (Tonggak Media, Maret 2020).

Tayang:
Penulis: DionDBPutra | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Tribun Bali/Dion DB Putra
Kambali Zutas (kiri) menyerahkan buku Euforia Sepak Bola Bali kepada Pemimpin Redaksi Harian Tribun Bali, H Sunarko 2 April 2020. 

Esai  menarik tentang Stefano Lilipaly  jadilah  Douwes Dekker.

Pun refleksi spiritual  Ngurah Nanak, Yabes Roni Malaifani dan Miftahul Hamdi.

Masih di bab yang sama pembaca dimanjakan  kisah  Maulana “Fellaini”, the legend  Fadil Sausu,  Mihael Essien, gol bunuh diri  Willian Pacheco, aksi memikat Spider Wan di bawah mistar gawang hingga gocekan si  tampan Irfan Bachdim yang bercerita tentang Bali sebagai surga  pelipur lara.

Bagian keempat menelisik  pemain  keduabelas.

Siapa lagi kalau bukan penonton?

Bola tanpa penonton  laksana  sayur tanpa garam. Hambar.

Kehilangan rohnya.

Kursi  penonton  selalu punya kisah sendiri. 

Manis dan pahit. 

Penuh canda tawa serta air mata lara. 

Cak Ali antara lain mengungkap Deklarasi Sanur yang melahirkan Semeton Dewata, adanya suporter instan, fans dadakan sampai kericuhan di kafe.

Dan, bagian penutup ibarar extra time  (tambahan waktu) dalam sebuah laga bola.

Berisi perbincangan  dengan sejumlah tokoh olahraga seperti Ketua KONI Provinsi Bali, Ketut Suwandi dan Ketua Asosiasi Provinsi  (Asprov)  PSSI  Bali, Ketut Suardana.

Mereka menyampaikan pandangan yang memperkaya isi buku.

Paling  akhir terbersit kerinduan kapan  Bali memiliki  stadion megah berstandar internasional. 

Sejauh ini Bali mengandalkan Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar. 

Stadion lain  kondisinya masih jauh dari ideal.

Pencapaian Bali United mestinya momentum emas Bali membangun fasilitas olahraga berkelas dunia.

Singkat kata,  Kambali  Zutas menulis Euforia Sepak Bola Bali sebelum, saat dan sesudah Bali United juara Liga 1 Indonesia musim 2019.

Berisi esai saling bertautan yang mengurai  tentang bahasa dan sastra, psikologi dan sosiologi, kultur Bali dan Indonesia dalam bingkai sepak bola.

Semacam melihat  Bali dan Indonesia dari lapangan  bola.

Di balik catatan yang apik, tentu saja ada  kekurangannya di sana-sini. 

Namun yang pasti, buku ini  telah memperkaya  referensi tentang sepak bola khususnya di Bali yang jumlahnya tak  banyak.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved