Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ngopi Santai

Kambali Meniti Jalan Sunyi

KAMI biasa menyapanya Cak Ali atau Mas Ali penulis buku Euforia Sepak Bola Bali (Tonggak Media, Maret 2020).

Tayang:
Penulis: DionDBPutra | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Tribun Bali/Dion DB Putra
Kambali Zutas (kiri) menyerahkan buku Euforia Sepak Bola Bali kepada Pemimpin Redaksi Harian Tribun Bali, H Sunarko 2 April 2020. 

Referensi  akademis  menghibur. Setitik oase di tengah kerontangnya prestasi sepak bola Indonesia.

Bagi saya  ada sisi lain yang  juga menggembirakan. Euforia Sepak Bola Bali  itu  Tribun Bali banget. 

Penulis, editor sampai gambar cover karya awak Tribun Bali. 

Editornya  I Putu Darmendra dan  Miftahul Huda. 

Gambar cover goresan tangan seniman  I Putu Nana Partha Wijaya.

Nana dan Huda memang tak lagi bersama Tribun Bali. 

Belum genap lima purnama yang lalu mereka memilih  medan bakti lain.

Sebelum mengucapkan sayonara  kepada  kami di  Mabes Ketewel  (baca: Kantor Redaksi  Tribun  Bali),  mereka berkolaborasi menghasilkan karya yang akan lama dikenang.

Pemimpin  Redaksi  Harian Tribun Bali, Sunarko,  memang  memberi ruang seluas  mungkin kepada seluruh awak redaksi. 

Ruang dan waktu untuk berkreasi dan berinovasi mengembangkan bakat dan talentanya demi menghasilkan karya yang bermanfaat bagi banyak orang.

Tribun Bali  setidaknya berkontribusi memberi ruang yang tampan kepada sederet jurnalis dan penulis muda yang goresan penanya keren. 

Sebut misalnya  Ni Ketut Sudiani,  AA Seri Kusniarti,  Eviera Paramita Sandi, I Putu Supartika dan lainnya.

Meniti Jalan Sunyi

Keputusan Kambali  Zutas terbitkan buku  mengundang takjub karena dia telah  meniti jalan sunyi. 

Mengapa begitu?

Ini zaman virtual bung.

Era kejayaan digital.

Manusia menyembah Google lebih dari apapun. 

Mau tahu segala hal,  mereka bertanya kepada Google, bukan buku.

Gugling saja beres.

Di tengah arus sedemikian deras itu,  Cak Ali kok malah  menerbitkan buku. Cetak pula. 

Padahal era print sudah senjakala.

Di ambang rembang zaman baru.

Aneh bukan? 

Butuh keberanian luar biasa untuk melakoninya.

Berbagai survei dan riset terbaru  membuktikan kecenderungan  tren masyarakat membaca  buku menyusut. 

Orang beralih ke e-book serta bahan bacaan digital  yang melimpah ruah.

Bahan tersebut mudah  diperoleh dan praktis pula pendokumentasiannya.

Bisa diakses kapan saja jika seseorang membutuhkan. 

Berbeda dengan buku cetak yang makan ruang khusus.

Pun dianggap  kurang gaul bagi kaum milenial, generasi keseringan merunduk menatap layar gadget  yang  lebih doyan jelajah virtual ketimbang meraba kertas.

Cak Ali  memilih jalan senyap sebab tak banyak jurnalis, editor atau redaktur media  yang sudi meluangkan waktu merajut esai  atau menganyam serpihan tulisan  terserak menjadi sebuah buku.

Utuh tersaji bagi pembacanya.

Sejauh pengalamanku  ada sejumlah alasan yang mereka ungkapkan.

Yang klasik adalah ketiadaan biaya cetak. Sulit mendapatkan sponsor dan lainnya.

Padahal itu faktor tersier.

Sesungguhnya problem umum editor atau redaktur adalah larut dalam rutinitas.   

Enggan berkeringat lebih untuk menghasilkan karya monumental.

Saya ingat  kiat Mantan Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Trias Kuncahyono yang produktif menulis buku terutama tentang masalah Timur Tengah.

Penulis buku best seller,  Jalur Gaza:  Tanah Terjanji, Intifada dan Pembersihan Etnis tersebut mengaku selalu mengalokasikan waktu khusus untuk menulis buku di sela pekerjaan pokoknya sebagai wartawan Kompas.

Dia mematok deadline bagi diri  sendiri.

Setiap hari minimal satu sampai dua jam dia merajut bahan tulisan.

Kadang dia bangun lebih pagi atau tidur agak larut ketika ide sedang mengalir.

“Pokoknya agak paksa diri kita untuk menulis. Kalau tidak begitu, satu buku pun nggak pernah jadi-jadi.” ujarnya suatu ketika.

Saya  menduga selama enam hingga tujuh bulan terakhir, Cak Ali telah memaksa dirinya  untuk menulis di sela tugas rutin sebagai redaktur olahraga dan bisnis Harian Tribun Bali serta aneka kegiatan sosial dan keagamaan.

Kalau tidak demikian, maka buku Euforia Sepak Bola Bali takkan  hadir tepat pada waktunya. 

Hampir bersamaan dengan kelahiran anaknya yang ketiga, seorang putri.

Sebagai karya tulis yang masuk Katalog Dalam Penerbitan (KDT) dan label ISBN, Euforia Sepak Bola Bali kiranya ikut memperkaya koleksi buku  nasional.

Meskipun tingkat literasi Indonesia terbilang rendah dibandingkan negara tetangga  di Asia Tenggara, namun soal penerbitan buku tersembul fakta menggembirakan.

Menurut data  London Book Fair 2019, Indonesia merupakan negara paling aktif menerbitkan buku di antara  negara anggota ASEAN.

Saban tahun setidaknya 30 ribu judul buku yang terbit  di persada Ibu Pertiwi.

Malaysia berada di posisi kedua dengan 19 ribu judul buku per tahun. 

Thailand di posisi ketiga dengan 17 ribu judul buku per tahun.

Menyusul Singapura dengan 9.952 judul buku per tahun dan Filipina dengan 7 ribu judul buku per tahun.

Hanya urusan minat baca peringkat  bangsa kita terbilang  rendah.

Dari 61 negara yang disurvei  The World’s Most Literate Nations (WMLN), Indonesia di posisi ke-60.

Dalam daftar tersebut, negara-negara Nordic menempati peringkat teratas seperti Finlandia, Islandia, Denmark, Swedia dan Norwegia. 

Di Asia, peringkat teratas dipegang Korea Selatan (22), Jepang (32), Singapura (36), China (39), Malaysia (53), Thailand (59) dan Indonesia (60).

Pengelola Perpustakaan Nasional  RI tentu berterima kasih kepada penulis seperti Kambali Zutas yang ikut menyumbang karya dengan harapan mendorong minat baca.

Sudah semestinya para jurnalis dan penulis  berkontribusi serupa itu mengingat mereka memiliki kapasitas, pengetahuan dan keterampilan merangkai kata.

Langkah sunyi  Mas Ali semoga menular kepada yang lain.

Negeri ini masih membutuhkan banyak penulis buku.

Orang  bilang buku adalah mahkota seorang wartawan. 

Kambali Zutas dalam usia muda mulai merintis jalan  memahkotai dirinya.

Euforia Sepak Bola Bali merupakan buku keduanya setelah tahun lalu dia meluncurkan antologi puisi berjudul  Laila Kau Biarkan Aku Majnun (Tonggak Media, 2019).

Berharap  Kambali Zutas  kembali menghadirkan karya-karya terbaru.

Teruslah menulis  Cak! 

(dion db putra)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved