Ngopi Santai
Kambali Meniti Jalan Sunyi
KAMI biasa menyapanya Cak Ali atau Mas Ali penulis buku Euforia Sepak Bola Bali (Tonggak Media, Maret 2020).
Penulis: DionDBPutra | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Referensi akademis menghibur. Setitik oase di tengah kerontangnya prestasi sepak bola Indonesia.
Bagi saya ada sisi lain yang juga menggembirakan. Euforia Sepak Bola Bali itu Tribun Bali banget.
Penulis, editor sampai gambar cover karya awak Tribun Bali.
Editornya I Putu Darmendra dan Miftahul Huda.
Gambar cover goresan tangan seniman I Putu Nana Partha Wijaya.
Nana dan Huda memang tak lagi bersama Tribun Bali.
Belum genap lima purnama yang lalu mereka memilih medan bakti lain.
Sebelum mengucapkan sayonara kepada kami di Mabes Ketewel (baca: Kantor Redaksi Tribun Bali), mereka berkolaborasi menghasilkan karya yang akan lama dikenang.
Pemimpin Redaksi Harian Tribun Bali, Sunarko, memang memberi ruang seluas mungkin kepada seluruh awak redaksi.
Ruang dan waktu untuk berkreasi dan berinovasi mengembangkan bakat dan talentanya demi menghasilkan karya yang bermanfaat bagi banyak orang.
Tribun Bali setidaknya berkontribusi memberi ruang yang tampan kepada sederet jurnalis dan penulis muda yang goresan penanya keren.
Sebut misalnya Ni Ketut Sudiani, AA Seri Kusniarti, Eviera Paramita Sandi, I Putu Supartika dan lainnya.
Meniti Jalan Sunyi
Keputusan Kambali Zutas terbitkan buku mengundang takjub karena dia telah meniti jalan sunyi.
Mengapa begitu?
Ini zaman virtual bung.
Era kejayaan digital.
Manusia menyembah Google lebih dari apapun.
Mau tahu segala hal, mereka bertanya kepada Google, bukan buku.
Gugling saja beres.
Di tengah arus sedemikian deras itu, Cak Ali kok malah menerbitkan buku. Cetak pula.
Padahal era print sudah senjakala.
Di ambang rembang zaman baru.
Aneh bukan?
Butuh keberanian luar biasa untuk melakoninya.
Berbagai survei dan riset terbaru membuktikan kecenderungan tren masyarakat membaca buku menyusut.
Orang beralih ke e-book serta bahan bacaan digital yang melimpah ruah.
Bahan tersebut mudah diperoleh dan praktis pula pendokumentasiannya.
Bisa diakses kapan saja jika seseorang membutuhkan.
Berbeda dengan buku cetak yang makan ruang khusus.
Pun dianggap kurang gaul bagi kaum milenial, generasi keseringan merunduk menatap layar gadget yang lebih doyan jelajah virtual ketimbang meraba kertas.
Cak Ali memilih jalan senyap sebab tak banyak jurnalis, editor atau redaktur media yang sudi meluangkan waktu merajut esai atau menganyam serpihan tulisan terserak menjadi sebuah buku.
Utuh tersaji bagi pembacanya.
Sejauh pengalamanku ada sejumlah alasan yang mereka ungkapkan.
Yang klasik adalah ketiadaan biaya cetak. Sulit mendapatkan sponsor dan lainnya.
Padahal itu faktor tersier.
Sesungguhnya problem umum editor atau redaktur adalah larut dalam rutinitas.
Enggan berkeringat lebih untuk menghasilkan karya monumental.
Saya ingat kiat Mantan Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Trias Kuncahyono yang produktif menulis buku terutama tentang masalah Timur Tengah.
Penulis buku best seller, Jalur Gaza: Tanah Terjanji, Intifada dan Pembersihan Etnis tersebut mengaku selalu mengalokasikan waktu khusus untuk menulis buku di sela pekerjaan pokoknya sebagai wartawan Kompas.
Dia mematok deadline bagi diri sendiri.
Setiap hari minimal satu sampai dua jam dia merajut bahan tulisan.
Kadang dia bangun lebih pagi atau tidur agak larut ketika ide sedang mengalir.
“Pokoknya agak paksa diri kita untuk menulis. Kalau tidak begitu, satu buku pun nggak pernah jadi-jadi.” ujarnya suatu ketika.
Saya menduga selama enam hingga tujuh bulan terakhir, Cak Ali telah memaksa dirinya untuk menulis di sela tugas rutin sebagai redaktur olahraga dan bisnis Harian Tribun Bali serta aneka kegiatan sosial dan keagamaan.
Kalau tidak demikian, maka buku Euforia Sepak Bola Bali takkan hadir tepat pada waktunya.
Hampir bersamaan dengan kelahiran anaknya yang ketiga, seorang putri.
Sebagai karya tulis yang masuk Katalog Dalam Penerbitan (KDT) dan label ISBN, Euforia Sepak Bola Bali kiranya ikut memperkaya koleksi buku nasional.
Meskipun tingkat literasi Indonesia terbilang rendah dibandingkan negara tetangga di Asia Tenggara, namun soal penerbitan buku tersembul fakta menggembirakan.
Menurut data London Book Fair 2019, Indonesia merupakan negara paling aktif menerbitkan buku di antara negara anggota ASEAN.
Saban tahun setidaknya 30 ribu judul buku yang terbit di persada Ibu Pertiwi.
Malaysia berada di posisi kedua dengan 19 ribu judul buku per tahun.
Thailand di posisi ketiga dengan 17 ribu judul buku per tahun.
Menyusul Singapura dengan 9.952 judul buku per tahun dan Filipina dengan 7 ribu judul buku per tahun.
Hanya urusan minat baca peringkat bangsa kita terbilang rendah.
Dari 61 negara yang disurvei The World’s Most Literate Nations (WMLN), Indonesia di posisi ke-60.
Dalam daftar tersebut, negara-negara Nordic menempati peringkat teratas seperti Finlandia, Islandia, Denmark, Swedia dan Norwegia.
Di Asia, peringkat teratas dipegang Korea Selatan (22), Jepang (32), Singapura (36), China (39), Malaysia (53), Thailand (59) dan Indonesia (60).
Pengelola Perpustakaan Nasional RI tentu berterima kasih kepada penulis seperti Kambali Zutas yang ikut menyumbang karya dengan harapan mendorong minat baca.
Sudah semestinya para jurnalis dan penulis berkontribusi serupa itu mengingat mereka memiliki kapasitas, pengetahuan dan keterampilan merangkai kata.
Langkah sunyi Mas Ali semoga menular kepada yang lain.
Negeri ini masih membutuhkan banyak penulis buku.
Orang bilang buku adalah mahkota seorang wartawan.
Kambali Zutas dalam usia muda mulai merintis jalan memahkotai dirinya.
Euforia Sepak Bola Bali merupakan buku keduanya setelah tahun lalu dia meluncurkan antologi puisi berjudul Laila Kau Biarkan Aku Majnun (Tonggak Media, 2019).
Berharap Kambali Zutas kembali menghadirkan karya-karya terbaru.
Teruslah menulis Cak!
(dion db putra)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/kambali-zutas-menyerahkan-buku-euforia-sepak-bola-bali.jpg)