Breaking News:

Corona di Bali

Pemprov Bali Belum Bisa Pastikan Jumlah Dana Karantina PMI

Makin banyak orang yang dikarantina tentu biayanya juga semakin besar. Nanti pada waktunya tentu akan kami laporkan semua

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Aloisius H Manggol
Dokumentasi Pemprov Bali
Ketua Satgas Penanggulangan Covid-19 yang juga sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bali Dewa Made Indra melakukan siaran pers melalui teleconference, Kamis (2/4/2020) sore 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali mengaku belum bisa memastikan berapa jumlah dana yang akan dipakai untuk melakukan karantina bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang baru pulang dari luar negeri.

Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Coronavirus Disease 2019.(Covid-19) Provinsi Bali Dewa Made Indra mengatakan, pihaknya belum bisa menyebut jumlah dana yang sudah dipakai untuk karantina.

Hal itu, kata dia, sangat dipengaruhi oleh dinamika karantina yang dilakukan.

"Makin banyak orang yang dikarantina tentu biayanya juga semakin besar. Nanti pada waktunya tentu akan kami laporkan semua," kata Dewa Indra saat melakukan konferensi pers di Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Diskominfos) Provinsi Bali, Jum'at (17/4/2020) petang.

Dewa Indra menjelaskan, setelah selesai melakukan rapid test kepada PMI di Bandar Udara (Bandara) Internasional I Gusti Ngurah Rai maupun Pelabuhan Benoa yang negatif akan diserahkan ke pemerintah kabupaten dan kota. Sementara PMI yang hasil rapid test-nya positif sepenuhnya menjadi tanggungjawab Pemprov Bali.

PMI yang dinyatakan positif melalui rapid test itu akan dibawa oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Bali ke tampat karantina. "Kamu punya beberapa tempat karantina, tetapi ada satu tempat karantina yang khusus untuk mengkarantina kawan-kawan yang positif," tuturnya.

Dibawanya PMI yang positif tersebut ke karantina untuk dilakukan pengambilan sampel swab yang akan diuji melalui Polymerase Chain Reaction (PCR). Nantinya setelah hasil pengecekan PCR itu keluar dan hasilnya negatif tentunya akan dikembalikan lagi ke pemerintah kabupaten dan kota. Jika hasilnya tetap menunjukkan positif Covid-19 maka terdapat dua pilihan yang harus dipilih. PMI yang positif namun kondisi tubuhnya sehat maka akan tetap melanjutkan isolasi di tempat karantina tersebut.

"Satu orang satu kamar, tidak boleh berinteraksi dengan orang lain, kamarnya dirawat dengan sangat ketat, setiap hari disemprot disinfektan. Kemudian tata cara penghidangan makanan diatur dengan baik, para tenaga medisnya bertemu dengan mereka berkonsultasi soal kesehatan menggunakan APD untuk menghindari transmisi lokal," paparnya.

Berbeda dengan PMI yang positif juga diiringi dengan gejala sakit seperti batuk, demam hingga sesak nafas maka akan langsung dibawa ke rumah sakit, yakni Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah atau Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri (RSPTN) Universitas Udayana (Unud).

Dewa Indra menuturkan, bagi PMI yang positif terjangkit Covid-19 dan kondisi tubuhnya sehat lebih baik dirawat di lokasi karantina. Hal itu disebabkan karena isolasi yang dilakukan di rumah sakit kemungkinan cukup menyiksa. Mereka akan berada dalam satu ruangan yang sangat dingin yang bertekanan negatif, tidak boleh ke mana-mana selama berhari-hari.

"Kalau dia mentalnya tidak kuat maka bisa menyebabkan kondisi kesehatannya menurun. Itu sebabnya yang positif (dan) sehat maka kita isolasi di karantina, supaya dia tidak menghadapi tekanan mental yang berat," tuturnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved