Corona di Bali

Ekonomi Bali Anjlok Terdampak Covid-19, Prof Windia: Pariwisata Memberi Harapan Palsu

Terlebih sebagian besar perekonomian Bali masih bergantung terhadap sektor pariwisata yang dinilai sangat rapuh.

Tribun Bali/Rizal Fanany
ILUSTRASI Petugas Pantai melarang wisatawan datang ke pantai Kedonganan, Badung, Rabu (15/4/2020). Pantai Kedonganan ditutup untuk sementara untuk mencegah penyebaran virus covid 19 

Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Perekonomian masyarakat Bali tengah terpuruk akibat terdampak pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Terlebih sebagian besar perekonomian Bali masih bergantung terhadap sektor pariwisata yang dinilai sangat rapuh.

Guru Besar Fakultas Pertanian (FP) Universitas Udayana (Unud) Prof I Wayan Windia mengatakan, anjloknya perekonomian masyarakat Bali di tengah pandemi Covid-19 membuktikan rapuhnya sektor pariwisata.

"Ini bukti bahwa baru segitu saja digenjot satu kali sudah begini keadaannya," kata Windia kepada Tribun Bali melalui sambungan telepon belum lama ini.

Jokowi Prediksi Wabah Corona Capai Puncaknya Bulan Mei dan Optimis Juli Bisa Turun

Realokasi APBD Tangani Corona, Pemkab Tabanan Tunda Anggaran Perjalanan Dinas Rp 38,2 Miliar Lebih

Hanya Corona yang Bisa ‘Tertibkan’ Lalu Lintas di Ubud

Windia mengatakan, tidak sekali ini saja sektor pariwisata Bali mengalami keruntuhan.

Sebelumnya juga sudah ada banyak kasus yang membuktikan bahwa sektor pariwisata mudah sekali terpuruk.

Namun dari beberapa kasus tersebut, pandemi Covid-19 menyebabkan pariwisata Bali mengalami penurunan paling dalam.

Hal itu dibuktikan dari tingkat hunian kamar hotel yang mencapai angka nol persen.

"Ini membuktikan bahwa kita terlalu banyak membangun pariwisata dan melupakan sektor primer dan tersier. Terlalu enak kita mendapatkan uang dari pariwisata, sekarang begini, semuanya keleleran kan," kata Windia.

Dirinya mengatakan, hampir semua orang mengakui bahwa pariwisata sebagai industri yang sangat rapuh dan hal itu kembali terbukti ditengah pandemi Covid-19 ini.

Seharusnya, kata Windia, momentum kali ini dijadikan sebagai upaya membangun kesadaran agar pembangunan di Bali berjalan seimbang antara pariwisata dengan sektor lainnya seperti pertanian dan kerajinan.

Menurut Windia, perusahaan asal Perancis yakni Societe Centrale Pour l'Equipment Touristique Outre-Mer (SCETO) pernah menyarankan agar hanya ada 24 ribu kamar hotel internasional di Bali.

Hal itu dilakukan agar keberadaan hotel seimbang dengan wilayah dan geopolitik Bali. Sementara keberadaan sektor lain seperti pertanian, peternakan dan industri kerajinan tetap dibangun untuk menunjang keberadaan 24 ribu hotel tersebut.

Namun nampaknya saran tersebut tidak diindahkan oleh stakeholder kepariwisataan sehingga jumlah hotel di Bali kini sudah mencapai 100 ribu lebih.

"Sekarang anjlok barulah semua kelimpungan. Jadi inilah yang tiang sebutkan harapan harapan palsu," tutur mantan Kepala Pusat Penelitian (Puslit) Subak Unud itu.

Dipaparkan olehnya, sumbangan sektor pariwisata di Bali terhadap Produk Domestik Regional Broto (PDRB) di Bali kurang lebih sebanyak 70 persen, namun tenaga kerja yang terlibat di sana hanya sebesar 30 persen saja.

Sedangkan di sektor pertanian jumlah masyarakat yang bekerja di sana mencapai 40 persen, meski sumbangan PDRB-nya 14 persen. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved