Sektor Pariwisata Bali Anjlok, Dewan Minta Pemerintah Genjot Pertanian
Berdasarkan hasil pemantauannya di Klungkung, rata-rata petani mengaku kesulitan mengelola lahan karena keterbatasan pupuk, air, dan sebagainya.
Penulis: Ni Kadek Rika Riyanti | Editor: Wema Satya Dinata
Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Kadek Rika Riyanti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Di tengah pandemi Covid-19 yang berimbas terhadap turunnya pendapatan dari sektor pariwisata, Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Bali, I Ketut Juliarta, meminta pemerintah untuk terus menggenjot sektor pertanian.
Dimana pada situasi seperti itu, ketahanan sektor pangan masih relatif baik di wilayah Bali.
Menurutnya, sebelum pandemi Covid-19 yang merenggut hampir semua sektor sumber kehidupan masyarakat, pertanian terkesan dianaktirikan, namun kini terbukti ditengah pandemi petanilah yang paling mampu bertahan.
Berdasarkan hasil pemantauannya di Klungkung, rata-rata petani mengaku kesulitan mengelola lahan karena keterbatasan pupuk, air, dan sebagainya.
• Tak Ada Aksi Turun ke Jalan Peringati May Day Besok, FSPM Bali Akan Sampaikan Tuntutan Lewat Medsos
• Hasil Rapid Test Negatif, PMI Asal Tabanan yang Dikarantina Sudah Diizinkan Pulang
• Cerita Sopir Angkot di Gianyar Saat Pandemi Covid-19, Penghasilan Merosot Jadi Rp 30 Ribu per Hari
“Sebenarnya yang menjadi masalah kita di Bali, dari yang sering saya komunikasikan ke petani, mereka rata-rata mengaku kesulitan mengelola lahan karena sulitnya pupuk, air kecil bahkan tidak ada air, dan banyak masalah lainnya, jadi tidak dipungkiri juga banyak yang mulai beralih dari bertani dan ingin menjual lahannya karena seperti tadi harga jual yang murah,” ujar Juliarta, saat dimintai keterangan oleh Tribun Bali melalui pesan WhatsApp, Kamis (30/4/2020).
Oleh karena itu, pihaknya berharap agar pemerintah dapat menggenjot sektor pertanian dan membantu permasalahan petani agar semua mendapatkan air dan bantuan bibit, pupuk, hingga pengawasan di lapangan.
Sementara itu, menurut data di daerah Klungkung, ia memaparkan, produktivitas padi mencapai rata-rata 6,5 ton perhektar.
Hasil itu diperoleh dari luas sawah di Klungkung yang mencapai 3.550 hektar, dengan frekuensi tanam 1,5 kali dalam setahun.
“Maka kami punya luas tanam padi seluas 5.325 hektar setahun. Jadi dalam setahun kita mampu menghasilkan padi sebanyak 34.612,5 ton gabah kering giling yang bisa menghasilkan beras kurang lebih 17.306,25 ton. Sedangkan tingkat konsumsi beras penduduk Klungkung, saat ini mencapai 0,27 kg/ kapita/ hari. Ini mencukupi kebutuhan internal, selain ditambah dengan sumber karbohidrat dari komoditas lain seperti jagung dan ketela,” terangnya.
Lebih lanjut, bila nantinya terjadi kendala dalam proses tanam maupun panen, selanjutnya akan dikoordinasikan dengan Dinas Pertanian Kabupaten Klungkung.
“Belakangan juga untuk harga jual gabah cukup baik di Klungkung, dengan adanya koperasi unit desa yang siap membantu petani dengan membeli harga baik dan tidak perlu risau dengan tengkulak, Pemerintah harus membantu membeli hasil panen dengan harga yang layak,” tambahnya.
Namun demikian, pihaknya berharap bantuan tidak hanya sebatas penyuluhan atau bantuan moral, tapi dari segi pemodalan dan penjualan gabah yang layak juga pantut diperhatikan.
“Terlebih pajak PBB juga diringankan sehingga niat dan semangat bertani kian tumbuh dan petani mau mempertahankan lahannya untuk ditanami padi,” tandasnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/petani-di-klungkung-sedang-bersiap-melakukan-penanaman-bibit-bunga-gemitir.jpg)