Breaking News:

Kisah Bapak Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, Pencetus Taman Siswa hingga Tut Wuri Handayani

Hari Pendidikan Nasional diperingati untuk menghormati jasa-jasa dari Ki Hadjar Dewantara

Dok. KOMPAS
Ki Hajar Dewantara diabadikan 11 Maret 1959, sebulan sebelum meninggal.(Dok. KOMPAS) 

Meski penamaan ini menunjukkan penghormatan dan upaya bangsa untuk tetap mengingat sosoknya, namun Ki Hadjar Dewantara merasa keberatan dan tak berkenan.

Ketika itu, kepada Harian Kompas, Panitera Umum Majelis Luhur Farnan Siswa H Moesman W berharap pemerintah dan masyarakat memberi perhatian terhadap wasiat tersebut dan menghargainya dengan tidak menamai jalan atau taman dengan nama "Ki Hadjar Dewantara".

"Pengabadian nama Ki Hadjar Dewantara sebetulnya membesarkan hati Majelis Luhur Taman Siswa, namun bagaimana lagi kalau beliau keberatan," ujar Moesman.

Namun, menurut dia, saat itu sudah ada kota-kota di Indonesia yang menggunakan nama Ki Hadjar Dewantara sebagai nama jalan atau taman, misalnya di Cilacap, Bukittinggi, Pekanbaru, dan Tanjungkarang.

"Kami mengharap segera diganti dengan nama lain," ujar Moesman.

Menurut dia, penggunaan nama itu tidak ada konsultasi atau izin dengan pihak keluarga atau Taman Siswa.

Hingga saat ini, nama Ki Hadjar Dewantara juga masih ditemui digunakan untuk penamaan ruas jalan di sejumlah kota.

Dengan mengetikkan nama tersebut di pencarian Google Maps, terlihat beberapa daerah masih menggunakan namanya sebagai nama jalan.

Beberapa wilayah itu di antaranya antaranya Sidoarjo, Surakarta, Jombang, Pasuruan, dan Probolinggo.

Jika melihat Yogyakarta sebagai tempatnya, tidak ada penggunaan nama Ki Hadjar Dewantara untuk menamai fasilitas umum seperti jalan dan taman kota.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved