Bali Kembali Diguyur Hujan Karena Fenomena MJO, Begini Penjelasan BMKG
BMKG Balai Besar Wilayah III Denpasar menyebut bahwa Bali kembali diguyur hujan lantaran adanya fenomena Madden Julian Oscillation
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balai Besar Wilayah III Denpasar menyebut bahwa Bali kembali diguyur hujan lantaran adanya fenomena Madden Julian Oscillation (MJO).
Apa itu MJO?
Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG III Denpasar, Iman Faturahman menjelaskan, MJO adalah fenomena gelombang atmosfer yang bergerak merambat dari Barat (Samudera Hindia) ke Timur dengan membawa massa udara basah.
Masuknya aliran massa udara basah dari Samudera Hindia ini meningkatkan curah hujan di daerah-daerah yang dilalui.
• M Nuh Warga Kampung Manggis Buruh Bangunan, Bukan Pengusaha, Minta Perlindungan
• Unggah Foto Teman Yang Luka-luka Dan Sebut Korban Begal, Sumarjaye Minta Maaf Karena Sebar Hoaks
• Cegah Penyakit Menular, Pemerintah China & Wuhan Larang Keras Konsumsi & Perdagangan Hewan Liar
"MJO mempunyai siklus sekitar 30-60 hari, periode rata-ratanya 45 hari. Untuk di Bali sendiri MJO diprediksi 3 - 5 hari kedepan masih berdampak terhadap hujan di Bali," kata Iman saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (21/5/2020)
Dia menjelaskan, hujan di Bali khususnya Bali Selatan masih terjadi disebabkan karena beberapa faktor lainnya selain MJO tersebut, antara lain karena saat ini sedang masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, dan kemudian karena suhu udara di permukaan laut memanas antara 26-33 derajat celcius.
"Kemarin siklon tropisnya sih sudah mendekati darat harusnya tanggal 20 Mei kemarin sudah mulai menurun intensitasnya. Tapi muncul low pressure (bibit siklon) baru di Sumatera bagian Barat kemarin itu. Bali kena dampaknya, kemungkinan sampai semingguan ini, kami akan terus pantau tiap hari," katanya.
Iman menjelaskan, low pressure atau bibit siklon yang muncul di Sumatera bagian Barat itu, kemudian mengggantikan posisinya siklon sebelumnya.
"Itu yang tadinya posisinya low pressure-nya di Barat laut pulau Sumatera sekarang ada di bagian Barat Sumatera. Ini yang menyebabkan si angin itu berubah arah sedikit bergeser tapi juga masih kencang," kata Iman
Selain itu, bibit siklon tersebut ini ada potensi terbentuk di Selatan Jawa.
Bibit siklon inilah yang bergerak ke arah Selatan atau ke Australia yang diperkirakan berjalan selama seminggu kedepan.
"Nah yang si bibit slikon yang di selatan ini low pressure juga sebenarnya itu kemudian mulai agak memutar. Nah ini akan menyebabkan perubahan arah angin. Kalau berubah arah angin, Kemungkinan yang pertama itu dia akan menyebabkan beberapa wilayah penumpukam awan atau melambatnya angin," terangnya
Selanjutnya, terjadinya penumpukan awan tersebut juga juga berpotensi menimbulkan hujan.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/jalur-terendam.jpg)